Posted by: adi setiawan | 26 November 2009

Kesaksian Spiritual Haji

Kesaksian Spiritual Haji

Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. “Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti…” Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya… bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini!

Panjar ONH Dibayar Mertua

Kerinduan berangkat haji semakin menguat setelah adikku dan istrinya berhaji menyusul Ibu dan Bapak yang sudah berangkat tahun sebelumnya. Salah satu cara merawat kerinduan itu dengan memasang hiasan keramik bergambar Masjidil Haram di dinding mushola rumah.

Namun, berdasarkan proyeksi kondisi keuangan, kami mungkin baru dapat berangkat tahun 2002. Ketika mendengar pertimbangan kami, bapak mertua tegas berkata: “Berangkatlah kalian haji tahun ini. Bapak beri pinjaman untuk panjar ONH kalian berdua.” Setelah membayar panjer ONH suami istri US$2000, aku memperingatkan istri untuk kemungkinan menjual mobil Kijang Krista guna menutupi ongkos haji.

Ongkos Hajimu Sudah Disiapkan!

Aku tertarik untuk meminta doa kepada seorang Ustadz yang materi kutbah Jumatnya sangat menyentuh. Aku menandai Ustaz itu. Sebab, pernah tiga kali sholat Jumat secara berturut-turut, di kota yang berbeda, surat Al A’laa dan Ghaasyiyah dibacakan dalam sholat. Dan Ustadz itu imam sholat yang ketiga dengan bacaan serupa. Sembari memberi salam, aku mengulurkan jabat tangan, “Pak Ustadz, saya ingin sekali naik haji. Tolong doakan saya.”

Wajah Ustadz itu nampak teduh saat memejamkan matanya. Berdoa. Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. “Rezekimu untuk berangkat haji telah disiapkan. Nanti juga semua pengeluaranmu akan diganti…”

Ustadz itu nampak demikian yakin. Tetapi tak urung keraguan meliputiku. Bagaimana mungkin dengan kondisi bisnis di kantor yang sedang menurun? Aku hanya terdiam. Kupikir ada cara untuk menguji ucapannya… bahkan untuk membuktikan apakah agama dan Tuhan yang selama ini kupercaya bukanlah dusta: Akan kukatakan kepada banyak orang bahwa aku akan berangkat haji. Tahun ini! “Ramalan” Ustaz itu tidak hanya kusampaikan kepada istriku, tetapi juga kepada mertua, sanak saudara dan teman-teman. Aku sengaja mengikat diriku dengan beban. Dan aku ingin menyaksikan bagaimana beban yang melilitku itu dilepaskan.

Akhir Tahun Menegangkan

Sebagaimana karyawan lain, 23 Desember 2000 adalah hari yang menegangkan bagiku. Sebab pada hari itu akan diumumkan keputusan manajemen perusahaan terkait dengan THR dan bonus.

Aku gelisah sejak dini hari dan selama makan sahur. Biaya ONH harus segera dilunasi dalam beberapa hari kemudian. Setelah subuh aku tidak ingin tidur. Istriku memahami kekegelisahanku. Kami harus rela menjual mobil untuk menutupi ongkos haji. Akhirnya kami putuskan untuk pasrah saja. Kami isi waktu dengan jalan-jalan pagi di sekitar kompleks sambil mengarang lagu Islami untuk anakanak. Aneh, inspirasi mengarang lagu demikian lancar mengalir. Setiba kembali di rumah aku menulis bait-baik itu dengan komputer dan mencetaknya untuk dibagi kepada teman-teman.

Aku terlambat tiba di kantor. Tidak sempat ikut rapat pagi. Melewati ruangan atasan dengan sungkan. Terbersit prasangka negatif saat tangannya melambai memanggilku.

Duh, mau diapain aku?

Rupanya ia ingin mengajakku bicara mengenai hal yang paling ditunggu semua orang hari itu. Atasanku belum lama mengisi jabatan di bagianku. Aku dimintai saran sebab menurutnya aku staff paling senior. Dia belum tahu cara menyampaikan kepada bawahannya keputusan manajemen perusahaan mengenai THR dan bonus serta pesan pimpinan tertinggi. Kepadanya kusarankan untuk memanggil karyawan satu per satu masuk ke dalam ruangannya untuk diberikan penjelasan secara pribadi. Atasanku mengganguk setuju. Karena aku sudah berada di ruangannya, dia memutuskan menjadikanku bawahan pertama yang menerima penjelasan. Kepuasan hakikatnya adalah posisi relatif antara harapan dan kenyataan. Aku tidak berharap banyak. Takut kecewa.

Lega rasanya hati ini saat atasanku menyampaikan keputusan rapat pimpinan untuk tetap memberikan bonus meski kondisi bisnis saat itu kurang menggembirakan. Suka cita itu bertambah setelah mengetahui besar bonus sebanding dengan tahun sebelumnya. Alhamdulillah, terbayang bonus itu melebihi ongkos haji kami. Pak Ustadz itu benar!!!

Ya Allah, telah Engkau cukupkan rezeki untuk biaya perjalanan haji kami. Maka karuniakan pula kepada kami keselamatan dalam perjalanan, kelancaran segala urusan, dan yang terpenting karuniakan kepada kami kekhusyukan selama peribadatan. Lindungi pula harta dan keluarga yang kami tinggalkan.

Salam untukmu wahai Nabi…

Perjalanan haji dimulai menyelesaikan ritual sholat Arbain dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah. Roudoh, wilayah sempit antara makam dan mimbar Nabi, sebagai tempat ijabah berdoa menjadi incaran para jamaah. Aku memutuskan untuk mengunjungi Roudoh di malam hari. Allah mengabulkan doaku. Tepat jam 2:30 aku terbangun, lalu mandi dan memilih pakaian bersih terbaik. Sepanjang jalan menuju masjid Nabawi dan Raudoh aku berdoa dan banyak mengirim sholawat untuk Nabi. Sepagi itu kulihat banyak orang berduyun ingin masuk Roudoh. Aku ikut antri. Informasi yang kuketahui Roudoh ditandai dengan karpet putih. Ketika merasa karpet yang diinjak berwarna putih, aku bertanya kepada seorang jamaah untuk menghilangkan keraguan. “Excuse me brother, where is Roudoh?”

“This is Roudoh! Shalat here two rakaat.” Jawab laki-laki itu sangat bersahabat sambil memberikan tempatnya kepadaku untuk sholat. Saat selesai sholat dan berdoa, aku mendengar suara riuh askar yang melarang orang sholat di sekitar makam Nabi. Demikian kuat Islam menolak syirik.

Aku ingin mendekat menuju mimbar untuk sholat dan berdoa sekali lagi. Dengan perlahan berjingkat melewati celah sempit jemaah yang sedang sholat atau duduk. Dari arah berlawanan, nampak seorang laki-laki ingin keluar. Ia juga harus melewati barisan jemaah. Tiba-tiba badannya agak oleng, hampir terjatuh. Alhamdulillah, lengannya dapat kutahan supaya tidak jatuh. Aku tidak persis ingat mukanya, namun laki-laki itu mengecupkan tangan kanan di bibirnya. Nampak berdoa. Kemudian ia menempelkannya tangannya di dadaku. Kenangan yang tidak terlupakan. Sebab ketika mengunjungi lagi Roudah, ada tangan yang menahanku agar tidak terjatuh. Barangsiapa mengerjakan kebajikan dengan penuh keikhlasan, maka Allah tidak pernah menyia-nyiakan amalannya.

“Suara-Suara” Itu Kembali Terdengar

Jemaah haji senantisa kembali dengan cerita-cerita yang sering kali tidak masuk akal. Sahabat pembaca, sadarilah pengalaman mereka adalah kesaksian spiritual yang memantapkan keimanan. Boleh jadi pengalaman itu terdengar memalukan. Tetapi nikmatilah. Sebab itu teguran Allah di dunia. Pasti lebih ringan ketimbang di akhirat. Dan aku hanyalah menambah koleksi kesaksian itu.

Kesaksianku adalah kembali mendengar ’suara-suara’. Patut kuingatkan ’suara-suara’ itu bukan produk akustik yang dapat didengar setiap orang. ‘Suara-suara’ itu melintas di dalam hati dalam bentuk dialog maupun teguran. “Suara” itu mengurai hikmah di balik peristiwa, menjawab pertanyaan kritis, atau menyertai diri menghalau ketakutan. “Suara” itu sangat kuat saat menjalani ibadah tawaf.

Teguran Allah: Jangan Menunda Berbuat Baik

Saat itu kami telah mengenakan busana ikhrom. Baru tiba di sebuah penginapan di Mekkah dekat kawasan Pasar Seng dari miqot Bir Ali. Badanku terasa letih. Selain perjalanan cukup jauh dan lalu lintas Mekkah padat, jemaah harus memindahkan koper yang cukup berat. Sebagai yang pertama kali masuk kamar, aku merasa mendapat hak memilih tempat tidur yang paling menyenangkan. Kamar itu memuat lima tempat tidur, empat di antaranya bertingkat dua. Jadi tidak salah bila aku memilih tempat tidur tunggal. Aku merebahkan diriku sejenak, melepaskan penat.

Sayup terdengar satu per satu teman-temanku datang. Ada yang bergembira mendapat dipan bawah. Namun ada yang berceloteh sebab mesti menempati dipan atas. Kulirik yang terakhir datang adalah seorang kakek yang harus menempati dipan atas terakhir. Dan terjadilah konflik bathin.

Haruskah aku memberikan tempatku?

Karena merasa letih aku memutuskan untuk menunggu sampai teman-temanku saja yang menempati dipan bawah rela memberikan tempatnya. Tiba-tiba aku merasa mual. Dan muntah tak terkendali muncrat mengotori sepre. Tibatiba terdengar “suara”: “Mengapa kamu seperti itu, padahal kamu sudah mengenakan ikhrom?”

Segera aku istigfar. Ya Allah, ampunilah perbuatan buruk hambaMu. Muntahku tidak kunjung reda. Istriku datang menghampiri setelah diberitahu kondisiku. Kepadanya kubisikkan bahwa aku sedang ditegur. Akhirnya kuputuskan untuk membersihkan tempat tidurku dan memberikannya kepada sang kakek. “Pak, pindah saja ke tempat saya. Tetapi maaf yah, tempatnya agak kotor kena muntah.” Usulku sambil sambil membuka sepree untuk dipindahkan.

“Terima kasih Mas, nggak apa-apa kok. Tempatnya masih bersih.” Sang kakek itu menyetujui tawaranku. Namun, rasa mualku belum reda. Rasa malu bertambah ketika hampir semua jemaah sudah berangkat tawaf umrah dan pimpinan rombongan berkata: “Wah kalau Mas Budi masih sakit, tawaf umrahnya bisa diundur besok saja.”

Tidak ada lain yang dapat kukerjakan kecuali memperbanyak istigfar. Sementara istri dengan setia menggosok minyak angin di sekitar leher dan dada. Secara berangsur badan terasa segar. Dan aku putuskan ikut rombongan terakhir untuk tawaf umrah.

Ada rasa takzim saat pertama kali memasuki pintu Babus Salam Masjidil Haram. Alhamdulillah, aku bisa melihat masjid itu. Teringat cerita seorang karibku yang lebih dulu pergi haji. Ada salah satu anggota jemaahnya yang tidak bisa melihat masjid sebesar itu. Jemaah itu baru bisa melihatnya setelah istigfar beberapa kali.

Karena pelataran utama padat sekali, kami memutuskan untuk tawaf di lantai dua yang lebih lowong. MasyaAllah!!!

Aku yang dikira kurang sehat ternyata mampu tawaf dengan semangat. Bahkan sering ditegur karena berada jauh di depan meninggalkan rombongan. Pimpinan rombongan kaget, “Lho, tadi Mas Budi kelihatannya sakit. Kok sekarang nampak sehat sekali?”

Allah tidak saja Maha Pengampun, Allah membalas kebaikan dengan kebaikan. Aku mendapat ganti tempat tidur yang lebih baik. Lebih empuk, lebih dekat ke kamar mandi dan kamar makan. Juga ada jendela kaca sehingga aku bisa melihat kondisi jalan di luar. Subhanallah. Teguran itu pelajaran seumur hidupku.Tidak ada rasa malu sedikitpun untuk menceritakannya kepada siapapun. Berbuat baik jangan ditunda-tunda!

Tawaf Latihan Berislam

Buku Haji karangan Dr. Ali Syariati – semoga Allah membalas kemurahannya membagi ilmu – menegaskan jemaah haji hendaknya berlaku pasif selagi tawaf. Pasif dalam kepasrahan sepenuhnya mengikuti simulasi gerak objek semesta di dalam orbitnya masing-masing mengelilingi pusat semesta. Pasif seperti elektron berotasi seputar inti atom. Pasif seperti aliran sungai menuju samudera. Jemaah harus menghindari lonjakan ekspresi hawa nafsu yang menimbulkan gesekan atau membuat diri terlempar keluar orbit. Pasrahkan jiwa sepenuhnya di dalam genggaman pengaturan dan pewalian Allah. Leburlah diri di dalam penghayatan doa yang melantunkan kepapaan hamba di hadapan Allah, Rabb Semesta Alam Yang Maha Perkasa dan Maha Agung.

Aku memperingatkan istri untuk disiplin menghayati makna tawaf itu. Ketika memulai tawaf haji, kami memutuskan untuk mendekap sikut sebab kuatir tidak sengaja menyikut orang lain. Pandangan kami lebih sering tertumpu ke lantai. Bila ada barang yang dapat mengganggu, seperti tissue atau peniti, kami pungut sembari berdoa: “Ya Allah, sebagaimana hambaMu membuang halangan ini, maka hilangkan pula halangan dalam perjalanan hidup hamba.” Kami bergerak mengambang mengikuti arus. Pada putaran keenam kami terdorong mendekati bangunan Kabah hingga menempel di dindingnya. Alhamdulillah, aku tetap diberikan disiplin memperingatkan diri sendiri dan istri, “Ingat, ini hanya batu bangunan biasa. Tidak memberikan mudharat atau manfaat. Kalau ingin menyentuhnya, sentuh saja sekarang tanpa mengharap apa-apa.” Kami menempelkan tangan sekali di dinding Kabah. Lalu melanjutkan tawaf.

Kesempatan Mencium Hajar Aswad

Melewati Rukun Yamani, kami melihat banyak orang berebut ingin mencium Hajar Aswad. Dalam hati aku merintih, “Ya Allah, tentu saja hambaMu ini ingin mengikuti sunah rasulMu mencium Hajar Aswad. Namun bila untuk itu kami harus menyakiti orang lain, kami tidak mau.”

Terdengar ’suara’, “InsyaAllah, engkau akan diberikan kesempatan mencium Hajar Aswad.” Tangan kananku tak terkendali bergerak sehingga terkecup bibir. Aku sampaikan pesan ’suara’ itu kepada istriku Adelina yang rapat memegang pinggangku.

Kami terus ikut mengambang mendekati Hajar Aswad.

Ketika jaraknya semakin mendekat, kulihat seorang mengambil tongkat dari balik gamisnya. Aku kaget. Untuk apa tongkat itu? Ketika memperhatikan orang-orang saling berebut, aku sempat histeris dan memperingatkan semua orang dalam bahasa Indonesia dan Inggris, “Jangan menyakiti orang di sini. Don’t hurt anybody here!” Teriakku lantang beberapa kali.

Situasi tidak membaik. Akhirnya aku kembali membathin.

“Ya Allah, hambaMu ini tidak ingin mencium Hajar Aswad sebab nanti akan menyakiti orang lain.” Kami kemudian terdorong keluar mendekati Maqom Ibrahim dan sudah memulai putaran ketujuh. Terakhir! Ya, itu putaran terakhir. Jadi tidak mencium Hajar Aswad adalah ketentuan Allah. Kami pasrah.

Tiba-tiba aku teringat bahwa tempat sesuci ini tentunya dijaga oleh banyak Malaikat. Lalu kucoba membuka komunikasi, meminta mereka untuk mendoakan kami.

“Wahai para Malaikat yang menjaga tempat ini, tidakkah kalian ketahui bahwa selama ini aku selalu mengakui keberadaan kalian dengan berdzikir kepada Allah. Dengan membacakan ayat suci Al Quran yang mengabadikan pernyataan kalian pada saat-saat awal penciptaan Adam.” Sepulang haji sering kurenungkan mengapa kata ‘kalian’ terpilih digunakan kepada Malaikat yang suci? Rasanya pilihan kata itu arogan. Apakah kata itu terpaksa kupilih sekedar untuk mendudukkan keistimewaan manusia dibanding Malaikat di hadapan Allah?

Setelah membaca ‘super-istigfar’ aku lalu melafazkan Al Baqarah ayat 32 yang memuat pengakuan para Malaikat.

“Subhanaka laa ilmalanaa illa maa allam tanaa innaka antal ‘alimul hakiim.” Maha Suci Engkau. Tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Terdengar kembali suara, “Bersabarlah sebentar di sini.” Tidak ada lagi yang kukerjakan kecuali bersabar. Tidak memaksakan diri. Tenang-tenang saja menunggu giliran. Kami semakin mendekati Hajar Aswad. Terlihat dua orang wanita tipikal Timur Tengah. Salah satu dari keduanya berteriak lantang kepada orang-orang sekitar. Mungkin mereka mengharapkan para laki-laki memberi mereka kesempatan mencium Hajar Aswad.

Rasanya tidak terduga kami sudah berada tepat di depan Hajar Aswad. Kucermati penampilannya. Nampak banyak tonjolan seperti batu bopeng. Tanganku bergerak mengusap. Dingin. Tak terasa istimewa. Aku tidak menciumnya. Mungkin karena tadi tanganku telah kukecup. Kemudian kuminta istriku untuk menciumnya. Dia kaget dengan kesempatan ini. Dia nampak ragu dan memberikan dulu kesempatannya kepada dua orang wanita tadi dengan bahasa Inggris seadanya. “Sisters, kiss… kiss.” Kedua wanita itu mencium Hajar Aswad bergantian. Istriku tetap bengong menatap Hajar Aswad. Suatu kesempatan yang sangat langka mengingat demikian banyaknya orang di situ. Waktu serasa berhenti untuk kami. Hingga aku terpaksa berteriak, “Adek, cepat cium!” Lalu istriku menciumnya. Dua kali. Aku melihat seorang di depan kami berteriak lantang menunjuk ke arah kami.

“Barkah…barkah… barkah!”

Oh, anak-anak kami. Pahamilah kesaksikan ini sebagai tanda keberadaan Tuhan kita. Berislam sesungguhnya mendidik jiwa menghayati ketentuan dan pewalian Allah sajalah yang terbaik. Ya Allah, karuniakan kepada kami lebih banyak kesaksian nikmatnya hanya menjadi hambaMu.

Doa Di Depan Multazam

Setelah Hajar Aswad kami mendapat kesempatan berdoa di depan Multazam, pintu Kabah yang terbuat dari emas. Tempat terbaik untuk berdoa. Allah kembali menjaga disiplin kami. Dengan penuh keharuan, aku berseru sambil menunjuk Multazam, “Kami tidak datang ke sini untuk melihat gedung ini. Tetapi kami ingin bertemu dengan Pemiliknya!”

Rasa haru semakin meliputi dada. Air mata hangat menetes mengaliri pipi. Merasakan kenikmatan itu sebagai pertanda penerimaan Pemilik rumah tua itu. Namun masih tersisa keraguan. “Ya Allah, jangan sampai air mata yang mengalir ini dari seorang yang munafik. Karena seorang munafik menitikkan air mata dengan menggersangkan hatinya.”

Sahabat, kenikmatan saat itu tidak terbelikan uang. Air mata tumpah semakin deras. Sementara dada terasa terangkat mengembang. Nikmat. Tenang. Damai. Tak terlintas kuatir atau cemas. Ya Allah, hambaMu datang memenuhi panggilanMu.

Kupanjatkan doa dengan terlebih dahulu memohon ampun atas segala dosa dan kesalahanku selama ini. Termasuk atas kebodohanku meminta sesuatu yang tidak pantas. Tidak pantas dalam ilmuNya. Tidak sesuai dengan yang telah ditetapkanNya untukku.

Begitu puas rasanya berdoa di situ. Aku mensyukuri nikmat bimbingan Allah selama ini. Musibah yang mengguncangkan jiwa selama ini reaksi terhadap dekapan kasihNya. Guncangan itu membuka mata bathin yang selama ini tertutup deru amarah, bujukan syahwat, dan prasangka buruk kepada Allah. Aku juga mensyukuri menerima undanganNya menunaikan haji.

Di depan Multazam itu, aku menyebutkan kembali satu per satu “empat kata” yang selama ini “diperdengarkan” kepadaku: “Bersih, Sabar, Syukur, Ilmu.” Empat kata yang menadai pintu-pintu hikmah. Hanya diperlukan satu kunci untuk dapat memasuki semua pintu hikmah: Cinta!

Dapatkan Cinta Allah dengan mencintai makhlukNya. Kami berdoa agar Allah menjaga mahligai rumah tangga kami. Membimbing kami sebagai orang tua yang diberi amanah mendidik anak keturunan menjadi hambaNya yang bertakwa. Tentu saja, ada juga permintaan khusus untuk anak-anak kami yang tidak ingin kuceritakan di sini. Sekembali ke Indonesia, aku menjaga empat kata tersebut dengan menjalankan sholat Dhuha empat rakaat setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Rakaat pertama, selesai Fatihah, aku membaca ayat yang berkenaan dengan “Bersih”. Rakaat kedua “Sabar”, ketiga “Syukur” dan terakhir “Ilmu”.

Sholat di Hijr Ismail

Setelah itu kami menuju Hijr Ismail untuk sholat. Alhamdulillah kami mendapat tempat yang baik untuk sholat. Kamipun berdoa untuk diri kami sendiri. Dan juga menyampaikan doa pesanan teman-teman. Di tempat ini berdoa lebih leluasa. Bisa lebih lama. Hijr Ismail adalah bagian dari bangunan Kabah. Jadi tidak sah dijadikan tempat tawaf. Setelah puas, kami memberikan tempat kepada jemaah lain agar mereka juga mendapat keleluasaan menunai sholat dan berdoa.

Puas Meminum Air Cinta Kasih

Selesai berdoa di Hijr Ismail, kami mengikuti arus putaran tawaf hingga dapat keluar dengan mudah. Lalu bersiap sholat menghadap Maqom Ibrahim. Setelah itu kami bersiap menuju Sumur Zam Zam. Ketika hendak menuju Sumur aku membathin bahwa kami akan meminum air sebagai penghargaan Allah untuk ikhtiar cinta kasih seorang Ibu Hajar mempertahankan kehidupan bayinya Ismail.

Belum jauh masuk ke daerah Sumur, tiba-tiba ada orang yang selesai minum keluar sehingga aku langsung mendapatkan tempat minum. Di situ aku minum sepuasnya air yang sejuk itu. Termasuk membasuh muka dan kepala. Setelah itu keluar, menunggu istriku Adelina selesai meminum air Zam Zam di bilik kaum perempuan.

Bersihkan Niatmu

Sesampai di penginapan, kami bertukar pengalaman. Kami menceritakan kepada teman-teman kemudahan mencium Hajar Aswad. Seorang teman menceritakan ‘kegagalannya’ mencium Hadjar Aswad. Padahal, saat itu dia sudah demikian dekat. Ketika itu dia merasa badannya dengan ringan diangkat “seseorang” menjauhi Hajar Aswad. Kepada kami dia mengakui sempat mempunyai niat kurang baik saat ingin mencium Hajar Aswad.

Sai’: Kuatkan Dirimu Dalam Beriktiar

Berbeda dengan tawaf yang pasif, ketika menunaikan Sai jemaah harus aktif menguatkan ikhtiar. Kewajiban setiap muslim hanyalah berikhtiar sekuatnya. Jangan mengharapkan hasil lebih dulu. Sebab mengharapkan hasil setara menabur bibit kekecewaan yang engkau akan tuai apabila harapanmu tidak tergapai. Kuatkan ikhtiarmu, engkau akan menjadi seorang profesional dalam bidangmu. Hargai anakmu berdasarkan disiplinnya mengerjakan tugas, bukan dari nilai yang dia peroleh. Hargai kegigihan ikhtiar suamimu mencari nafkah, bukan besar uang yang dibawanya pulang.

Alhamdulillah Sai dapat kami tunaikan dengan lancar. Seorang teman menceritakan ‘teguran’ untuk istrinya saat Sai. Sang istri terlepas dari pegangannya. Seolah hilang tertelan di antara kerumunan orang banyak. Sang istri dijumpanya kembali di penginapan dalam keadaan menangis. Temanku menceritakan langsung bahwa kejadian itu hanya terjadi seketika. Beberapa detik saja. Dia tidak menemukan istrinya di daerah Sai.

Jumrah: Melempar Kejahatan Dalam Dirimu

Rangkaian ibadah yang cukup berat adalah melempar jumrah. Sebab seringkali, jemaah yang kurang memahami hakikatnya berdesakan hingga memakan korban.

Buku “Haji” Ali Syariati mengupas secara mendalam makna melempar jumrah. Ketiga berhala yang dilempar melambangkan tiga atribut Allah (Rabb, Maalik dan Ilah) yang ingin dimiliki makhluk. Hayatilah Surat Al Fatihah dan An Nass, pembuka dan penutup Al Quran. Keduanya memuat kesepadanan ketiga atribut Allah diatas. Ingatlah, sesungguhnya kita melempar kejahatan syetani yang ada di dalam diri kita. Jangan sampai justru kita yang meragakan syetan, melempar dengan penuh nafsu.

Aku berdoa kepada Allah untuk memberikan keselamatan dan kemudahan saat mengerjakan rangkaian ibadah ini. Aku berkonsentrasi menghayati kedua surat diatas, banyak beristifgar, dan menunggu bimbingan. Kembali “suara” itu terdengar menunjukkan jalan, belok kiri atau belok kanan. Setelah menunaikan lemparan salah satu jumrah, kami menepi untuk berdoa, bersyukur kepada Allah.

Tidak terlupakan saat “suara” itu menyuruhku berhenti padahal kulihat ada jarak untuk masuk mendekati Jumrah Aqobah. Tiba-tiba aku merasa mengerti maksudnya. Jarak itu berguna untuk menyelamatkan jemaah yang berada di depan dari tekanan orang yang datang. Seorang jemaah yang ingin keluar memelukku. Ia berterima kasih mendapatkan ruangan. Kemudian kami dapat masuk mendekati jumrah. Melempar untuk diri sendiri dan anggota jemaah yang berhalangan. Saking dekatnya dengan jumrah, terasa beberapa kali kepalaku menerima lemparan batu kecil.

Arafah: Padang Kebijakan

Arafah puncak haji. Tidak sah haji tanpa kehadiran di Arafah. Meski menemukan banyak pepohonan hijau, daerah itu sangat panas. Setelah mendengar kutbah Arafah, kami keluar mencari tempat sendiri-sendiri untuk merenung. Ada buku doa Arafah milik anggota jemaah yang kubaca. Bagus sekali isinya. Sampai menangis. Lalu buku itu diedarkan untuk dibaca jemaah lain. Istriku sangat tertarik dengan buku itu. Sepulang haji, ia mengcopy beberapa eksemplar untuk dibagikan kepada jemaah calon haji.

Setelah berdoa, aku tertarik memantau kondisi sekitar. Sebagaimana di Mina, begitu banyak sampah di Arafah. Terutama bekas makanan dan minuman yang melimpah di tempat itu. Banyak orang berderma membagikan makanan kepada jemaah. Aku berdisplin tidak ingin membuang sampah sembarangan. Bila ada kesempatan membersihkan sampah, aku berdoa “Ya Allah, sebagaimana hambaMu ini tidak ingin mengotori bumiMu yang suci, maka sucikan pula hati hamba dari kemusyrikan dan kemunafikan”.

Doa Orang Tua Terkabul

Begitu banyak kenikmatan yang kami rasakan selama menunaikan ibadah membuatku bertanya. Mengapa semua kemudahan itu aku rasakan? Pertanyaan itu kuajukan setelah selesai sholat di lantai dua Masjidil Haram menghadap ke Multazam. Terdengar kembali ‘suara’ itu menjawab: “Itu karena doa Ibumu…”

Sontak aku menangis terharu. Tidak mempedulikan tangis itu bakal terdengar siapa saja. Berkali-kali aku memanggil ibuku. Untuk berterima kasih. Allah menitipkan kasihNya kepada setiap orang tua, terutama Ibu, agar kita mengenal cintaNya.

Aku teringat ‘kebangkitan’ spiritualku awal 1997. Hanyalah doa ibu yang menyelamatkanku dari goncangan kejiwaan saat pertama kali aku mendengar ‘suara-suara.’ Saat semua orang tidak berdaya dengan masalahku, ibuku datang. Kukatakan kepada beliau bahwa aku sedang mengalami “sesuatu”. Aku hanya minta didoakan keselamatan. Aku sangat menyakini doa Ibu sangat mustajab. Tidak terhalang atau mampu dihalangi oleh syetan atau iblis durjana sekalipun. Ibuku lalu mengajarkan sepasang doa. Doa pertama dibaca oleh sang anak. Kemudian dibalas oleh orang tua. Doa itu kami senantiasa ajarkan kepada anak-anak kami. Dan Ibuku benar. Setelah didoakan keadaanku membaik. Kemudian ‘suara’ itu menjelaskan banyak hal, termasuk kandungan surat Al Fatihah. Peristiwa itu kami abadikan sebagai nama putri kami Dina Zahra Fatihah.

Dalam keharuan, aku menyampaikan kesaksian kepada Allah bahwa kedua orang tuaku telah menunaikan amanah mereka mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. Aku mendoakan kebaikan untuk keduanya. Di sanalah, aku berdoa kepada Allah semoga mudah menghapalkan ayat 23 dan 24 surat Al Israa’ untuk bacaan sholat:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.

Sobatku, bacalah dan hafalkan ayat itu dengan tartil. Nikmatilah alunan Firman Allah itu. Resapi pesan moral yang dikandung. Ada awal untuk menghadirkan dan menikmati Tuhan melalui kepandaian kita berterima kasih menghargai pengorbanan orang tua.

Sholat Di Atap Masjid dan Jemaah Mesir

Saat sholat Jumat kali kedua, aku terlambat datang sehingga sulit mendapatkan tempat yang menyenangkan. Sholat Jumat sebelumnya, akupun tidak memperoleh tempat datar, terpaksa harus berdiri di tangga. Pengalaman pertama kali sholat Jumat yang tidak memungkinkan sujud. Demikian padatnya keadaan Masjidil Haram saat sholat Jumat.

“Suara” itu terdengar menyarankan, “Mengapa engkau tidak mencoba sholat di bagian atap Masjid?” Usulan tidak menarik. Sholat di lantai dekat pintu Babus Salam saja panas, apalagi di atap. “Nggak ah, mana tahan. Terik sekali!”

“Suara” itu kembali menjawab. Malah menantang. “Tidak! Akan menyenangkan. Ayolah.” Kuputuskan mengikuti saran’nya’. Akhirnya terpilih tempat yang cukup strategis, tetapi tetap saja terpanggang panas. Lalu kukenakan topi payung dan selendang untuk menahan panas.

Tidak berapa lama datang seorang jamaah, yang akhirnya kukenal berasal dari Mesir. Ia membawa payung. Teduh bayangan payung jatuh tepat ke arahku, melindungiku dari sengatan panas. Ingin sekali aku mengaji. Tetapi suaraku serak. Sebab sedari selesai Subuh hingga Dhuha aku membaca Al Quran di dalam Masjid.

Jemaah Mesir itu membaca Al Quran dengan dialek khas namun bacaannya jelas. Tiba-tiba dia terbatuk. Dengan cepat, kutawarkan permen menthol. “Good for your throat” bujukku. Dia menerimanya, tetapi tidak memakannya. Ketika ingin membaca surah yang lain, aku memberanikan diri ‘memesan’ surat Al Mulk untuk dia baca. Dan diapun membaca dengan baik. Ketika surat Al Mulk selesai, dia kembali batuk. Aku lalu tawarkan Komix. Dia menerimanya. Dan aku kembali ‘memesan’ surah Ar Rahman. Dia menyetujui, lalu membacanya dengan tartil.

Selesai membaca surat Ar Rahman, aku menawarkan dirinya untuk istrirahat minum. Kutunjukkan botol mineral Dua Tang yang aku bawa dari Indonesia. Aku peragakan bagaimana air tidak akan muncrat bila knopnya ditekan dan air akan muncrat bila knop ditarik. Kuberikan kepadanya sebagai hadiah. Dia senang sekali. Tetapi sekali lagi kembali “memesan” surah Al Waqiah. Dia kembali dengan suka hati membacanya dengan baik. Selesai dia mengaji, kami ngobrol sebentar. Dia nampak tidak banyak mengerti bahasa Inggris. Ketika dia menyebutkan Egypt, aku menduga dia berasal dari Mesir.

Spontan aku berkata: “Oh…Firaun…Firaun.” Dia hanya tersenyum simpul membenarkan. Meski pakai bahasa tarzan, suasana menyenangkan. Tidak terasa sengatan terik matahari. Namanya Ahmad. Dia mendoakanku suatu hari dapat mengunjungi negerinya Mesir. Sobat, jangan menyepelekan doa di Masjidil Haram. InsyaAllah, suatu saat aku – malah kudoakan beserta anak mantuku – berziarah ke Mesir.

Akhirnya saat sholat Jumat tiba. Ada keraguan panas akan menyengat meski seorang yang badannya tinggi berada di depanku. Keraguanku tercampakkan, saat semilir angin terasa sejuk membelai kulitku berulang-ulang. Ya Allah, janjimu benar. Sholat di atap Masjidil Haram menyenangkan. Sejuk. Dan aku dapat mendengarkan surah yang ingin kubaca pada hari Jumat lewat perantaraan lisan seorang jemaah Mesir.

Minuman Hangat Sebelum Tahajjud

Aku menguatkan niat untuk Tahajjud di Masjidil Haram. Saat terbangun, aku ingin lebih dulu menyenangkan diri dengan minuman hangat. Teh Susu misalnya. Namun sayang sekali, pemanas air di penginapan kami belum berfungsi. Air masih dingin untuk membuat seduhan. Aku mengharapkan dalam situasi dini hari seperti ini masih ada penjual minuman. “Suara” itu kembali terdengar, “InsyaAllah, engkau akan mendapatkan penjual minuman teh susu hangat.”

Aku melanjutkan langkah menelusuri pertokoan Pasar Seng yang masih sepi. Kucoba memperlambat langkah sembari mengawasi jika ada penjual minuman. Ternyata tidak ada hingga mendekati tangga atas Masjidil Haram. Aku langsung kembali membathin. Tak apalah. Minum air Zam Zam saja cukup.

Ketika hendak masuk pintu masjid, aku melihat seseorang melintas sambil hati-hati memegang gelas yang nampak mengepul. Nah, pasti di sekitar sini ada penjual minuman. Lalu kucoba mengikuti jalan yang agak mendaki. Masya Allah, tidak jauh kulihat satu-satunya kedai yang masih buka. Langsung ku hampiri membeli segelas teh-susu.

Berhajilah Selagi Muda

Ketika kami selesai sholat di lantai dua menghadap Multazam, aku merasa ada tangan seseorang yang menyentuh pundakku. Ketika aku menoleh, kulihat seorang bapak yang cukup tua. Tersenyum. Namun tiba-tiba dia menangis. Aku salah tingkah. Mau bertindak apa? Kudekati saja sambil meletakkan tanganku di pundaknya. Seolah merangkul. Aku menunggu hingga dia puas menangis. Masih dalam keadaan terisyak, bapak itu berkata: “Bapak terharu melihat kalian. Masih begitu muda, tetapi sudah memenuhi panggilan Allah berhaji.”

Kami jadi turut terharu. Sembari berusaha keras menutup rapat celah-celah kesombongan yang ditiupkan syaitan, aku menyarankan supaya bapak itu untuk mendoakan semoga anak-anaknya dapat berangkat haji selagi muda. Bapak itu mengangguk. Dia kemudian menceritakan asal dan kondisi anak-anaknya. Ya Allah, mudahkanlah bagi anak keturunannya menunaikan haji selagi muda.

Doa Untuk Pak Sabeni

Setelah merampungkan tawaf haji, kami menghubungi bapak mertua di Jakarta. Ada kabar duka. Pak Sabeni, supir kami yang baik hatinya, berpulang tiba-tiba. Kami memanjatkan doa untuknya. Aku membacakan Surat Yasin khusus untuknya di Masjidil Haram. Semoga Allah mengabulkan doa kami, mensejahterakan almarhum di alam barzahnya. Memberi kesabaran dan keikhlasan kepada keluarga yang ditinggalkan. Istriku sangat terkejut. Ia mengenang kebaikan almarhum yang akan menjaga anak-anak kami selama kami menunaikan ibadah haji.

Penutup

Kami cukupkan penuturan pengalaman haji kami di sini. Penuturan ini hanyalah sebagian ekspresi kesyukuran kami kepada Allah. Tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun dari siapapun. Kecuali dari Allah. Semoga penuturan ini dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi calon jemaah haji khususnya. Rawatlah kerinduan Anda berhaji dengan menyakini haji adalah kewajiban. Niatkan pergi haji dengan menyisihkan sejumlah uang tabungan pembuka. Semoga Allah menjadikan perjalanan haji sebagai bagian penting untuk kematangan spiritual kita. Semoga Allah berkenan menunjukkan sebagian tandatanda keagunganNya saat Anda berhaji.

Salam

Budi Hikmat dan Adelina Syarif

Posted by: adi setiawan | 26 November 2009

Beli Tiket Pesawat dengan Shalat Tahajud

Beli Tiket Pesawat dengan Shalat Tahajud

oleh M. Arif As-Salman

Wajahnya tampak berseri, hatinya diliputi kebahagiaan. Apa yang selama ini ia harapkan kini telah tercapai. Tak terhingga rasa syukurnya pada Allah ta`ala, yang telah mengabulkan doa-doa yang ia panjatkan di keheningan malam, di saat manusia terlelap tidur.

Ia bertambah yakin pada janji-janji Allah. Ia semakin mantap dalam keimanannya. Amal solehnya bertambah giat dan doa-doanya semakin panjang dan khusyuk.

Sudah sekian tahun ia hidup di negeri para Nabi ini, dalam pengembaraannya mencari ilmu. Berbagai manis-asam garam kehidupan telah ia rasakan. Pahit dan getirnya telah ia lalui. Namun ia selalu tampak tabah dan gagah. Tak tergores kegundahan di wajahnya dan tak berbekas kegelisahan di sinar matanya.

Saya acap kali bertemu dengannya dalam beberapa kesempatan. Setiap kali berjumpa, wajahnya seakan tak pernah jemu tersenyum pada semua orang. Semangat hidupnya seolah tak pernah padam. Saya salut dengan Ust. Abu Anshar-nama samaran- yang telah dikarunia dua orang anak laki-laki ini.

Sore itu, selepas shalat ashar, seorang sahabatnya Ust. Hamdani-nama samaran- memberitahukan kepada saya bahwa Ust. Abu Anshar saat ini tengah berada di Indonesia.

“Ada kisah yang sangat menarik dan mengandung banyak pelajaran dari kepulangan ust. Abu Anshar,” cerita ust. Hamdani kepada saya.

“Apa hal yang menarik itu Ustadz?” Tanya saya penuh penasaran.

Ust. Hamdani mulai bercerita, “Hari itu ust. Abu Anshar datang ke rumah saya. Ia bercerita, bahwa akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini untuk menjenguk keluarganya yang tertimpa musibah gempa di kampung halaman. ”

“Saya pulang bukan karena banyak uang, tapi alhamdulillah ada rezki dari Allah”, kata ust. Abu Anshar.

Saya pun jadi penasaraan, “Bagaimana rezki itu datang Ustaz?” Tanya saya padanya.

Mulailah Ust. Abu Anshar bercerita pada saya, “Begini, beberapa hari yang lalu, saat saya shalat isya di mesjid dekat rumah saya, seorang laki-laki dari Arab Saudi yang tengah transit di Mesir menghampiri saya.

“Assalamu`alaikum, kamu orang Indonesia?

“Wa`alaikum salam, iya, betul..”

“Kamu tinggal dimana?”

“Saya tinggal dekat dari sini.”

“Sering shalat ke mesjid?”

“Alhamdulillah, saya selalu berusaha untuk shalat di mesjid lima waktu”

“Bagus sekali jika begitu, semoga tetap istiqamah ya”

“Amin”, jawab saya.

Kemudian ia bertanya lagi.

Oiya, di Indonesia kamu tinggal di mana?”

“Saya tinggal di Sumatera.”

“Oh, saya dengar Sumatera terkena musibah gempa beberapa waktu yang lalu..”

“Iya..”

“Bagaimana dengan keluarga kamu, adakah yang menjadi korban?”

“Alhamdulillah keluarga selamat, hanya saja rumah salah seorang keluarga kami hancur..”

“Innalillahi wainna ilaihi raji`un..”

“Kenapa kamu tidak pulang?”

“Saya diminta pulang oleh keluarga, tapi, belum ada rezki..”

“Oh begitu..Sabar ya, semoga Allah bantu dan berikan kemudahan..”

“Amin”

Tak lama kemudian, setelah sedikit ngobrol agar saling kenal. ia meminta izin untuk pergi, sebelum pergi ia memberi dua orang anak saya yang ikut shalat bersama saya, uang Le 10 (lebih kurang 17.000,-).

Esoknya saya kembali bertemu dengannya ketika shalat subuh di mesjid. Usai shalat ia mendatangi saya. Sambil mengeluarkan amplop yang ia keluarkan dari sakunya ia berkata,

“Saudaraku, ini ada sedikit rezki untuk kamu dari saya. Mudah-mudahan bisa membantu kesulitan yang kamu dapatkan saat ini.”

“Saya bingung dan heran. Saya berusaha untuk menolak. Tapi, ia tetap memaksakan juga. Akhirnya, ia memasukkan amplop itu ke dalam saku baju saya. Hati saya masih berdebar. Belum selesai hati dan pikiran saya dari tanda tanya. Ia memohon izin untuk pergi. Saya pun tak lupa untuk berterima kasih padanya, dan mendoakan semoga Allah membalas kebaikannya. Saya juga tak lupa meminta nomer hpnya.

Setelah ia keluar dari mesjid. Rasa penasaran yang sejak tadi meliputi hati saya ingin saya tumpahkan. Amplop itu saya buka perlahan, saya ingin tahu apa isinya. Jantung saya masih berdebar-debar…

Ternyata.. di dalam amplop putih itu ada uang USD 700 (senilai lebih kurang 7 juta rupiah). Saya kaget. Apa saya tidak salah lihat. Atau mungkin salah hitung. Saya teliti kembali. Iya ternyata benar, saya tidak salah hitung. Saya lansung bersujud syukur di hadapan Allah. Tanpa terasa pipi saya basah. Air mata saya mengalir deras. Saya terharu. Allah telah mengabulkan doa-doa panjang yang saya panjatkan di penghujung malam selama ini.

Saya bergegas pulang ke rumah menemui istri . Setiba di rumah, saya katakan pada istri saya.

“Umi, ayo sujud syukur!”

Istri saya menjadi heran

“Kenapa Bi, ada apa?”

“Nanti abi bilang, sekarang Umi sujud syukur dulu, ntar Abi ceritain..”

Akhirnya istri saya sujud syukur.

Setelah itu saya ceritakan lah apa yang terjadi barusan di mesjid. Dan saya keluarkan uang itu dari amplopnya. Istri saya tak sanggup menahan rasa haru dan bahagia di hatinya..Ia kembali bersujud syukur pada Allah, sujud yang panjang dan penuh kepasrahan dan tak terasah pipinya basah…

Begitulah kisah yang saya alami. Sehingga saya bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini” kata ust. Abu Anshar menutup ceritanya.

Mendengar cerita beliau saya ikut terharu.

Lalu saya bertanya pada Ust. Abu Anshar, “Kalau boleh saya tahu, apa rahasianya sampai ustaz dapat rezki dari arah yang tak terduga tersebut?”

Beliau hanya senyum, “Semuanya sudah diatur Allah..” jawab beliau singkat.

“Iya, saya ngerti, tapi saya ingin tahu, apa yang selama ini ust. Abu Anshar lakukan, maksud saya , amalan yang dirutinkan..?”

“Sebenarnya berat untuk saya katakan, tapi mudah-mudahan ada faedah dan pelajaran yang bisa diambil darinya.”

“Selama ini, setiap malam, saya selalu berusaha untuk shalat tahajud. Dan di saat keheningan malam itu saya berdoa dengan pipi yang selalu basah, karena derasnya air mata saya mengalir. Saya hanyut dalam untaian doa yang panjang, meminta pada Allah, agar memberikan saya jalan keluar dan membuka pintu rezki untuk bisa pulang ke Indonesia menjenguk keluarga saya yang tertimpa musibah itu.

Saya hampir setiap hari ditelpon keluarga, diminta pulang. Tapi selalu saya jawab, “Saya tidak punya uang untuk pulang.”

“Saya bingung harus meminta tolong pada siapa. Lama saya berpikir dan merenung, namun saya tak kunjung mendapatkan uang. Akhirnya, saya mengadu pada Allah. iya.. Hanya Allah tempat saya mengadu saat itu. Tak ada lagi tempat bagi saya meminta tolong dan menaruh pengharapan. Hanya Allah saat itu bagi saya yang bisa menolong saya dengan cara-Nya.”

“Saya pasrah sepenuhnya pada Allah, pada Tuhan yang telah menciptakan saya. Saya sangat yakin, hanya Allah yang bisa menolong saya dalam keadaan yang sulit ini. Sungguh, makhluk tak bisa berbuat apapun jika Allah tak menghendaki.”

“Sehingga akhirnya, Allah menunjukkan jalan keluarnya. Alhamdulillah atas nikmat yang besar ini. Saya merasa, seolah-olah laki-laki dari Arab Saudi yang tengah transit itu sengaja dikirim Allah ke Mesir untuk mengantarkan rezki pada saya. Allah sudah mengatur semua ini. Bahkan tatkala saya mencoba menelponnya agar bertemu dengannya pada pagi hari itu juga, ia mengatakan bahwa sudah berada di bandara untuk kembali melanjutkan perjalanan.”

“Begitulah kisah Ust. Abu Anshar yang mengharukan dan penuh makna itu”, ucap Ust. Hamdani menyudahi ceritanya.

Saya yang mendengar cerita itu dari ust. Hamdani juga merasa takjub dan ikut terharu. Sejaka saat itu Saya semakin yakin pada Allah. Saya akan memanjatkan berbagai permintaan pada Allah. Allah maha mendengar, maha tahu dengan kesulitan kita, maha melihat apa yang tengah menimpa dan kita rasakan. Ia mendengar rintihan suara kita, jerit tangis kita, doa-doa kita di penghujung malam. Ia tidak tidur dan tidak mengantuk. Ia selalu mengawasi dan mengatur alam semesta. Subhanallah, segala puji hanyalah bagi Allah.

Kokohnya kepasrahan dan keyakinan ust. Abu Anshar mengingatkan saya pada firman Allah dalam kitab-Nya yang mulia, Allah berfirman, “…Dan barangsiapa yang berserah diri pada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS at-Thalaq[65]: 3)

Saya juga teringat dengan firman Allah Swt dalam kitab-Nya yang mulia, Allah berfirman : “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenakan bagimu.” (QS al-Mukmin[40] : 60)

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan…” (QS an-Naml[27]: 62)

Dari Jabir ra., berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya pada setiap malam ada satu saat, dimana tidaklah seorang muslim berdoa pada saat itu untuk kebaikan usrusan di dunia dan akhiratnya. melainkan Allah akan kabulkan permohonannya tersebut. (HR. Muslim)

NB: Cerita ini saya dengarkan lansung dalam sebuah pertemuan singkat, dari ust. Hamdani. Kisah ini adalah kisah nyata. Dan beberapa ilustrasi saya tambahkan untuk menjadikan ceritanya mengalir. Tapi, saya tidak merubah inti kisah nyatanya.

Semoga bermanfaat buat kita semua, terutama penulis pribadi, amin..

Salam ukhuwah

Posted by: adi setiawan | 26 November 2009

Perbedaan Pendapat Soal Hijab

Perbedaan Pendapat Soal Hijab

JAKARTA–Ketua Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah), Wirianingsih, mengatakan, terdapat beragam pendapat standar berpakaian bagi muslimah menurut syariat. Hal ini disampaikannya kepada Republika menanggapi polemik seragam bagi paramedis berjilbab di RS Mitra Internasional Jatinegara (RSMI), Senin (23/11).

Menurutnya, perbedaan pendapat itu dapat dilihat dari beragamnya cara berpakaian muslimah saat ini, mulai dari yang memakai cadar, mengenakan baju longgar, hingga yang sekadar menutup kepala dan badan walau pakaiannya tembus pandang dan membentuk lekuk tubuh. “Yang standar disepakati jumhur ulama, pakaian tidak ketat, tidak tembus pandang, dan menutupi seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan,” tegasnya.

Terkait sertifikasi sesuai syariat yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk standar seragam RSMI yang menuai polemik, Wirianingsih mengatakan, ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Poin-poin standar pakaian seragam yang menuai polemik di antara sebagian karyawan medis RSMI diantaranya mewajibkan paramedis memasukkan kerudung ke dalam baju dan lengan baju sepanjang hingga tiga jari di bawah siku.

Sebelumnya, Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Maruf Amin menerangkan, pertimbangan pihaknya memberikan fatwa syariah atas seragam paramedis RS Mitra Internasional (RSMI) karena faktor al-hajat atau keperluan. “Tingkatan al-hajat memang satu tingkat di bawah darurat, namun sudah memungkinkan untuk menoleransi menggunakan baju yang panjang lengannya seperti yang ada itu (tiga jari di bawah siku, rep),” katanya.

Wirianingsih mengingatkan, muslimah yang memilih bekerja harus siap dengan segala resiko, artinya siap mengikuti aturan di tempatnya bekerja. Ia berpendapat, perusahaan tempat wanita berjilbab bekerja sudah selayaknya memiliki pertimbangan-pertimbangan khusus mengenai hal ini. Yang masih ia sayangkan, di Indonesia belum ada peraturan legal semacam undang-undang yang menjamin hak jawab bagi karyawan yang dikeluarkan dari pekerjaannya karena soal pakaian dan alasan keyakinan beragama. “Soal pakaian, selama tidak mengganggu aktivitas dalam bekerja seharusnya tidak menjadi masalah,” ucapnya. c15/taq

Posted by: adi setiawan | 20 November 2009

Benang Merah Kekhalifahan dengan The World New Order?

Benang Merah Kekhalifahan dengan The World New Order?

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Apa ada benang merah makna sesungguhnya dari konsep Kekhalifahan yang pasti dijanjikan Allah hadirnya sebelum tiba Hari Kiamat dengan The New World Order konsep Yahudi? Begini, bagaimanapun sepertinya melihat banyak tanda konsep negara dunia bakal terjadi. Pada doktrin Islam, di manapun bumi dipijak disitulah bumi Allah untuk menusia menjadi khalifah memakmurkannya, pada doktrin Yahudi ada kesamaan hanya saja dari isu-isu pluralisme, humanisme, dsb. Apa hikmah di balik ini semua? Mungkinkah ada “penyatuan” agama samawi (tauhid) misalnya, antara Yahudi – Nasrani – dan “si bungsu” Islam..?! Karena terlihat betul internal umat islam khususnya SDM nyapun saat ini boleh dikatakan lemah…

Sekalian saya mau nanya buku karya Jaber Bolushi (Papyrus Publishing,2007) berjudul Oktober 2015 Imam Mahdi Akan Datang yang fenomenal itu, dengan buku karya Wang Xiang Jun (Pustaka Solomon,2009) berjudul Menunda Munculnya Dajjal 2012.. kedua buku itu sangat fenomenal (dan beberapa literatur tentang skenario Allah dari hadist-hadist shahih) intinya menceritakan bahwa urutan yang muncul yakni Imam Mahdi yang dipaksa dibaiat setelah ada persengketaan perebutan kekuasaan putra khalifah yang gugur, kemudian Imam Mahdi berkuasa, lantas Imam Mahdi beserta keluarganya, dan kaum muslimin mendapatkan fitnah Dajjal, hingga datang pertolongan Allah yakni Nabi Isa as. yang kembali lagi ke dunia untuk membenarkan Imam Mahdi dan membunuh Dajjal, kemudian menjadi khalifah selanjutnya setelah Imam Mahdi wafat..bagaimana dengan isi buku itu yg kontras?

Bagaimanapun firasat saya mengatakan (dari serangkaian literatur yang saya baca tentunya) pada tahun 2012 akan terjadi sesuatu yang dahsyat pada umat manusia umumnya serta kaum muslimin khususnya, dari analisis dan prediksi ilmiah, dari dari ilmu ghaib yang entah iya ata tidak, misal ramalan Bangsa Maya?!, dan 2022 (yang saya baca bakal terjadinya kehancuran Israel Raya? Mungkinkah ini saat kemunculan Imam Mahdi? Atau kembalinya Nabi Isa as.) bagaimana pendapat bapak tentang hal ini..???

Satu hal penting lagi, saya juga merasa dari literatur-literatur itu kok sepertinya Indonesia akan memegang peranan penting dalam akhir cerita dunia nantinya.. mengingat negeri ini memiliki kaum muslimin terbesar sejagad raya dan diprediksi sejumlah ulama bakal bangkitnya Islam.. bagaimana pendapat bapak tentang hal ini?

Memang semua itu Allahu A’lam, namun sekiranya pertanyaan ini dapat menjadi tambahan pengetahuan dan keimanan untuk saya dan pembaca eramuslim sekalian. Mohon maaf jikalau ada kata-kata kurag berkenan, hujan pertanyaan, atau pemahaman yang keliru. Saya tunggu jawabannya. Terima kasih atas perhatiannya.

Salam,

Ibnu Mawardi

Ibnu Mawardi

JAWABAN

Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh,

Semoga Allah Swt selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada Antum sekeluarga. Amien. Pertama-tama saya ingin mengajak Anda untuk menutup mata. Buang semua teori yang ada. Kosongkan pikiran. Dan buka mata Anda kembali. Lihatlah sekeliling. Apa yang Anda lihat dan rasakan?

Anda akan melihat jika hampir semua kebijakan negara di dunia ini telah ikut dan tunduk pada Grand-Design The New World Order, termasuk Saudi Arabia yang dikatakan sebagai Khadimatul Ummah. Indonesia, sebagai negeri mayoritas Muslim dunia (setidaknya dalam Kartu Tanda Penduduk), sejak lama hingga detik ini sedang dikangkangi oleh kekuasaan Neo Liberal yang secara bulat mengabdi dan tunduk pada The New World Order yang memiliki hampir seluruh badan-badan dunia seperti PBB, IMF, World Bank, G7, G8, G20, Trilateral Commission, RIIA, Bilderberger, dan sebagainya. Semua Neolib dan para kroninya merupakan salah satu budak kekuatan Zionis-Yahudi yang tengah membangun The New World Order seutuhnya.

Umat Islam sekarang ini adalah umat yang dalam hal penguasaan teknologi dan hegemonik dunia dalam posisi kalah atau Underdog. Sebab itu kita seringkali bersikap reaksioner dalam menghadapi ancaman-ancaman dan strategi lawan, dan ini tentu tidak sehat. Adalah fakta jika kita sekarang ini adalah umat yang jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah, walau tidak semuanya. Bahkan banyak dari orang-orang yang mengaku sebagai “tokoh umat” malah melacurkan diri kepada kaum liberal yang nyata-nyata merupakan budak-budak Dajjal (Luciferian) di mana Zionis-Yahudi sebagai panglimanya.

Sampai sekarang, kebangkitan Islam yang sering digembar-gemborkan itu hanyalah sebuah mimpi indah, namun masih sangaaaat jauuuh untuk merealisasikannya. Kebangkitan Islam sekarang ini hanya tampak pada kulitnya saja, namun belum menyentuh esensi dari Islam itu sendiri. Tidak percaya? Satu contoh sangat kecil: Islam Jelas dan Tegas Mengharamkan Riba. Nah, sudahkah kita bebas dari riba? Yang ada malah bank-bank ribawi ini menipu kita semua dengan ikut-ikutan mendirikan cabang yang diberi label “Syariah” padahal itu cuma akal-akalan pengusaha saja untuk menipu kita.

Lalu soal sistem kenegaraan, Islam jelas-jelas memberikan Syuro sebagai sistem yang benar. Tapi sekarang sistem demokrasi sebagai sistem yang berasal dari sistem Yahudi di masa kekuasaan 12 Pendeta Yahudi di Palestina (Masa Raja-Raja), 400 tahun sebelum Plato lahir—sebab itu disebutkan jika Demokrasi sesungguhnya adalah “Sunnah Yahudi”—malah diikuti dan diterima sebagai sebuah sistem yang benar. Akibatnya, banyak tokoh umat yang ikut-ikutan dengan sistem Dajjal ini berubah total. Yang tadinya memegang teguh Islam sebagai pandangan hidupnya, Islam mengalir dalam darahnya, kini sekadar menjadikan Islam sebagai kulitnya. Yang lebih parah, Islam dan umatnya malah dijadikan komoditas menjelang pemilu, alat untuk jual-beli, dan setelah itu segera dilupakan.

Ironis lagi, Saudi Arabia yang sering dianggap sebagai Khadimatul Ummah malah menjadikan sistem Monarki-Absolut sebagai sistem kekuasaannya. Ini merupakan Bid’ah Kubro. Mereka malah mengcopy-paste sistem kekuasaan kaum musyrikin Quraisy dan membuang jauh-jauh sunnah Rasul SAW. Mereka lebih memilih sistem-nya Abu Jahal, ketimbang memilih sistemnya Muhammad SAW.

Ini semua adalah fakta. Pahit memang, tapi al-haq tetaplah al-haq. Dan al-haq sama sekali tidak bisa bermusyarokah dengan al-bathil. Sebagaimana uang hasil jual-beli anjing tidak bisa dipakai untuk membangun masjid.

Adalah fakta jika sekarang ini The New World Order nyaris terbentuk dengan sempurna. Bagaimana dengan Kekhalifahan Islam? Masih sangat jauh. Walau mungkin saja sudah sangat dekat hanya dengan pertolongan Allah SWT. Amien.

Di hari akhir nanti, tidak ada yang namanya penyatuan agama samawi. Islam adalah agama satu-satunya yang diridhoi di sisi Allah SWT. Hanya Islam, bukan yang lain. Inilah akidah yang benar dan lurus. Di hari akhir nanti, semua manusia yang masih berada di luar Islam akan diseru untuk kembali kepada agama fitrah ini. Nabi Isa a.s. yang turun kembali ke bumi akan mengajak umatnya untuk kembali ke jalan Islam sebagai agama fitrah. Semua manusia yang menerima Islam sebagai fitrahnya akan meninggal dunia saat angin lembut bertiup dari Yaman. Sampai disitulah umur umat Islam. Hanya sampai disitu. Setelah kaum Muslim semua meninggal dunia dengan tenang, dunia hanya diisi oleh kaum kufar dan seluruh dunia diliputi kekacauan yang dahsyat hingga datangnya hari kiamat yang jauh lebih dahsyat ketimbang apa yang diperlihatkan dalam film 2012. Jadi umat Islam tidak akan mengalami hari kiamat yang mengerikan itu. Silakan baca Hadits Riwayat Muslim Bab Dzikru-Dajjal 18:70.

Tentang buku karya Jaber Bolushi tentang datangnya Imam Mahdi di tahun 2015 saya enggan memberi komentar karena isinya, walau banyak dihiasi dengan kutipan ayat-ayat Qur’an dan hadits, namun berasal dari paradigma Abdullah bin Saba’, Yahudi dari Yaman itu. Demikian juga dengan semua buku Wang Xiang Jun (Pustaka Solomon) yang walau pun judulnya sangat bombastis, namun isinya jauh dari kehebatan judulnya. Bahkan tulisan saya tentang hari kematian Soekarno di RSPAD pun pernah dicopy-paste utuh begitu saja tanpa menyebut sumber dan tanpa izin. Kedua buku tersebut tidak ada gunanya dibahas. Mungkin demikian dulu jawaban dari saya. Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh.

Posted by: adi setiawan | 20 November 2009

Tidak Fatimah, Selagi Ada Muslim Miskin

Tidak Fatimah, Selagi Ada Muslim Miskin

oleh Mashadi

Manusia terbagi dalam tiga golongan. Masing-masing golongan mempunyai karakter, dan orientasi sendiri-sendiri. Menurut Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah, pertama, golongan yang hanya menuruti hawa nafsunya.

Mereka tidak rela melainkan terhadap apa yang diberikan orang lain kepada mereka. Mereka tidak marah melainkan jika orang lain menghalanginya dari sesuatu yang diingininya. Jika seorang dari mereka diberikan apa saja yang disenanginya, baik yang halal maupun yang haram, maka kemarahannya akan segera hilang dan merasa puas. Mereka berbalik memberikan kesetiaannya.

Kemudian, perkara yang pendapatnya semula mungkar – di mana ia melarang dari hal mungkar tersebut, memberikan sanksi, celaan dan murkaan pada pelakunya akan berbalik menjadi suatu yang disenanginya. Ia menjadi sekutunya dan membantunya, serta menentang siapa saja yang melarang dan mengingkarinya. Mengapa demikian?

Penyebabnya tak lain karena manusia itu zalim dan bodoh. Ia tidak suka berbuat adil. Ketika ia melihat suatu kaum mengingkari kezaliman pemimpin terhadap rakyatnya, dan sikap melampui batasnya terhadap mereka. Tapi, kemudian pemimpin itu membuat senang mereka yang mengingkarinya dengan suatu hal, lalu mereka berubah menjadi pendukungnya. Inilah sikap yang menonjol dalam kehidupan orang-orang yang sudah dikendalkan nafsu.

Golongan kedua, kaum yang berbuat menurut agama yang benar. Mereka ikhlas, karena Allah dalam melaukan semua itu, melakukan perbaikan dalam segala yang hal, dan beristiqamah,s ehingga mampu bersabar menghadapi cobaan yang menimpa mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dan tergolong orang-orang yang shalih.

Sedangkan golongan ketiga, kaum yang dalam diri mereka berhimpun segala hal. Umumnya, mereka adalah kaum muslimin, yang dalam diri mereka berhimpun agama dan syahwat, yang ingin melakukan ketaatan dan berbareng dengan keinginan melakukan kemaksiatan. Adakalanya mereka menang, tapi ada kalanya mereka kalah.

Sehingga, manusia menjadi tiga golongan ini, yang disebut dengan tiga macam nafsu, “Ammarah, Muthma’innah, dan Lawwamah”.

Kemudian, dalam shiroh terdapat kisah yang disampaikan oleh Shahabat Ali bin Abi Thalib yang telah melaksanakan kebaikan-kebaikan yang pernah dijalankan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, dan membawa misi yan amat berat. Tokoh yang kelak diambil menantu Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam, dan menikahi Fatimah itu, memang selalu ditakdirkan menghadapi kehidupan yang sulit. Adapun, kenikmatan, kemewahan, bahkan semata-mata istirahat pun, hal-hal yang tak layak bagi Ali.

Ali melihat keadaan keadaan Rasulullah , di saat bahaya yang beliau hadapi bersama pamannya Abu Thalib, dan bahaya itu telah mencapai puncak yang sangat mengkawatirkan, maka tampillah keutamaannya dalam kebesaran yang agung, hingga mampu mengatasi marabaya, terungkap dari kalimat beliau, ketika menghadapi keinginan kaum kafir Qurays, yang dipimpin Abu Sofyan, dan ungkapan itu , “Demi Allah meskipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tetap tiak akan meninggalkan urusan ini sampai akhirnya Allah menjadikannya berhasil, atau aku binasa karenanya”.

Pada peristiwa lainnya, Ali melihat pula sikap seperti itu, di saat pembebasan Makkah (Yaumul Fath). Nasib kaum Qurays saat itu benar-benar tergantung kepada keputusan yangakan keluar dari Rasulullah. Kiranya jiwa pemaafnya tampil ke depan dengan segala keramah tamahannya yang luas dan kasih sayangnya yang menyejukkan. Perbuatan mereka yang selama ini, membunuh sanak keluarga dan para shahabatnya, mengunyah-ngunyah hati pamannya dan mencincang jasadnya, semua dilupakannya. Ali menyaksikan semuanya itu.

Tidak mungkin sifat-sifat seperti itu akan dimiliki oleh jenis manusia yang selalu dipenuh dengan hawa nafsunya.

Shahabat Ali tahu dan belajar dari Rasulullah, ketika beliau membatasi dirinya untuk tidak meminum susu, ia memberikannya kepada seorang muslim yang miskin.

Dan, suatu ketika Ali menyuruh isterinya Fatimah, puteri Rasulullah Shllahu Alaihi Wa Sallam, meminta agar diberi bagian , walau sedikit, sebagaimana biasa yang diperolehya dengan mudah oleh kaum muslimin lainnya. Namun, Rasulullah dengan air mata berlinang, sebagai bukti kasih sayang seoran ayah kepada anaknya, menjawab,

“Tidak, Fatimah ..

Bapak tidak akan memberikannya kepadamu, sementara kaum muslimin yang miskin tidak mendapatkannya”, ucap Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Salam kepada puterinya Fatimah.

Sedih memang. Tapi, itulah hakekat manusia yang tidak lagi dibelenggu oleh hawa nafsunya. Walllahu ‘alam.

Older Posts »

Categories