Posted by: adi setiawan | 5 November 2009

Makna Yerusalem Bagi Seorang Muslim

Makna Yerusalem Bagi Seorang Muslim

Ibnu Kahfi, Alumni S2 Universitas Oldenburg (Jerman)

Ketika tulisan ini dibuat, sekelompok muslim sedang berdiam diri di dalam Masjidil Aqsha. Yang dilakukan oleh sekelompok muslim ini hanya berdiam diri di dalamnya, layaknya i’tikaf. Tetapi i’tikaf ini bukan dalam rangka hari-hari terakhir Ramadhan, karena momentum maha penting yang diharapkan merubah keadaan Umat Islam itu sudah berlalu, dan sedang bergerak ke momentum maha penting lainnya, yaitu Haji.

Bila seorang muslim melakukan i’tikaf di Bulan Ramadhan karena ingin bersungguh-sungguh sebelum Bulan ALLAH itu berpisah dengan dirinya, maka sekelompok muslim yang saat ini berdiam diri di dalam Masjidil Aqsha sedang bersungguh-sungguh pula menjadi tameng bahkan kalau perlu sebagai martir sebelum mereka benar-benar berpisah dengan Masjid Suci ini.

Masjid Suci hanya berada di tanah suci. Bila Masjidil Haram berada di tanah Makkah, dan Masjid Nabawi berada di tanah Madinah, maka bagaimana mungkin Masjidil Aqsha dipisahkan dari tanah Yerusalem, Al Quds. Tetapi lihatlah kondisi sekarang. Lihatlah bagaimana Umat Islam memperlakukan ketiga masjid ini.

Sebentar lagi kita akan melihat berbondong-bondong Umat Islam bergerak ke Madinah dan Makkah. Mereka akan bersungguh-sungguh mencari keutamaan di kedua tanah ini, shalat di Masjid Nabawi dan Haji di Baitullah. InsyaALLAH tidak ada yang menghambat gerak mereka. Tidak ada yang menghadang kedatangan mereka. Pintu masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu terbuka untuk setiap manusia yang sudah tidak membawa identitas lain selain kalimat tauhid sebagai identitas tunggal mereka.

Tetapi ada yang berbeda dengan Masjid Terjauh itu. Umat Islam dihadang bila ingin memasukinya. Setiap gerak umat yang mengarah ke Masjid Suci ini dihambat dengan barikade rapat penuh ancaman. Sejak radius 200 km dari Masjid Suci ini barikade sudah disiapkan untuk menghalangi setiap muslim yang bergerak bahkan dengan berjalan kaki, hanya untuk berziarah ke masjid ini, ingin melihat bagaimana kabar Al Aqsha saat ini. Yang diperbolehkan memasuki masjid ini hanya mereka yang berusia 50 tahun ke atas, itupun hanya mereka yang sudah ‘terlanjur’ bermukim di Yerusalem. Di sekitar masjid tanah sudah dikeruk untuk mempersiapkan bangunan baru. Di bawah masjid penggalian sudah tak terhitung jari hingga menimbulkan keretakan yang tak terhitung pula. Mereka yang pernah mempelajari fisika tidak akan ragu, bahwa hanya dengan sedikit ’sentuhan’ lagi, maka bangunan yang tegak di atas galian itu akan berubah menjadi puing-puing. Ini hanya persoalan menunggu waktu yang tepat agar kejadian itu kelak menjadi sebuah ‘pertunjukan’.

Bila Umat Islam adalah umat yang tidak membedakan para nabi, maka bagaimana mungkin mereka melupakan bahwa hampir semua nabi yang diceritakan Al Quran pernah bermukim di Yerusalem. Mengetahui bahwa Masjid Suci ini adalah kiblat pertama Umat Islam ternyata belum cukup menyadarkan umat bahwa hendaknya mereka meletakkan pembebasan Al Aqsha pada baris pertama agenda perjuangan mereka. Ternyata pesan Rasulullah SAW bahwa lakukanlah perjalanan pada Tiga Masjid Suci belum cukup menjadi motivasi bagi umat agar suatu saat kaki ini harus menginjak ketiga tanah suci itu dan kening ini harus sujud di ketiga tanah suci itu.

Sungguh aneh bila 15 juta bangsa Yahudi merasa lebih memiliki Yerusalem ketimbang 1,5 milyar Umat Islam yang kebanyakan saat ini hanya menonton saudara-saudara mereka yang berjumlah 7 juta sudah terusir dan harus mengungsi meninggalkan rumah mereka, karena sejak 60 tahun lalu hingga sekarang, separuh populasi Yahudi dunia itu sudah bermigrasi dan merampas tanah itu dari pemiliknya.

Adakah ini konflik tanah belaka ? Adakah ini persengketaan tanah belaka ? Adakah ini persoalan penjajahan semata ? Sadarlah wahai muslim ! Bangunlah wahai muslim yang memiliki akal ! Mereka yang merampas Al Aqsha tidak pernah menyebutnya sebagai Masjid Suci. Mereka memanggilnya dengan The Third Temple. Mereka ingin membangun kembali kuil mereka setelah dua kali dihancurkan oleh Babilonia dan Romawi. Mereka sedang menanti Mesiah mereka, Raja mereka yang menurut mereka adalah Raja yang dijanjikan. Dan bagi kita yang muslim, Raja mereka itu adalah Dajjal, makhluk yang ALLAH ciptakan agar kelak ketika ia sudah dalam dimensi waktu yang sama dengan kita, maka dia inilah yang akan menipu manusia dengan mempersonifikasikan dirinya sebagai Isa as, Al Masih sebenarnya.

Sadarlah wahai muslim ! Bangunlah wahai muslim yang memiliki akal ! Mereka yang merampas Yerusalem itu menyebut kaum muslimin dengan Gog and Magog (Ya’juj dan Ma’juj). Mereka mendefinisikan kaum muslimin sebagai kaum perusak yang akan menyulitkan mereka di akhir zaman. Sungguh sudah banyak studi bahwa justru Ya’juj dan Ma’juj itu adalah orang-orang Zionis yang kita kenal saat ini. Bangsa Yahudi saat ini kebanyakan bukanlah bangsa Bani Israil keturunan Nabi Ya’qub itu. Kebanyakan mereka yang saat ini mengaku Yahudi dan Zionis adalah keturunan Bangsa Khazar dari pegunungan Kaukasus yang dengan misterius kemudian memeluk Yahudi. Ciri khas pada wajah mereka adalah ciri khas bangsa Khazar. Mereka inilah sang perusak. Mereka adalah kaum yang sama tatkala memulai Perang Salib. Mereka adalah kaum yang sama tatkala mencuri Yerusalem dari Khilafah Utsmani. Mereka adalah kaum yang sama yang memantik Perang Dunia.

Mereka adalah kaum yang sama ketika Peristiwa Nakba terjadi. Mereka adalah kaum yang sama yang saat ini menggenggam dunia dalam rangka mempersiapkan kembali masa keemasan. Menguasai dunia dari Yerusalem seperti dahulu Nabi Sulaiman dengan kerajaannya. Simaklah studi Syeikh Imran Hosein mengenai masalah ini. Perhatikanlah peringatan Syeikh Safar Al Hawali yang karena mengungkap belitan zionis di Semenanjung Arabia, maka ia dicopot dari jabatan Pimpinan Fakultas Akidah Universitas Ummul Qura di Makkah.

Lalu masihkah engkau berpikir ini persoalan sebagaimana yang berusaha mereka tampilkan di media-media yang sudah mereka kuasai ? Masihkah ini persoalan sebagaimana ia terlihat ? Ini adalah persoalan akidah ! Ini adalah persoalan kaum yang melempar Taurat dan menggenggam Talmud meyakini apa yang ada di genggaman mereka dan sedang bergerak menggapai tujuan mereka. Lalu bagaimana mungkin seorang muslim tidak pula menjadikan persoalan ini sebagai bentuk keyakinan mereka pada Al Quran dan Al Hadits lalu bergerak pula untuk memenangkan Kalimat ALLAH ini. Bila kita mengaku sebagai pengikut Rasulullah SAW, maka terimalah hadits – hadits darinya, termasuk hadits mengenai keadaan akhir zaman, keadaan Kaum Muslimin dan Yahudi, dan keadaan Bumi Palestina yang saat ini dikenal.

Sudah cukup Umat Islam terbawa aturan main musuhnya sendiri. Sudah cukup Umat Islam berjalan di muka bumi tanpa agenda yang jelas, sibuk mengikuti agenda musuh mereka. Dajjal itu sudah memasuki hampir setiap pelosok dunia ini. Jangan cari wujudnya, lihat bekasnya. Sistem Dajjal sudah mencengkeram dunia, bahkan diadopsi oleh sebagian besar kaum muslimin sendiri. Belum cukupkah ini menunjukkan betapa Saat itu telah dekat ?

Sungguh Ya Muslim, kita adalah count down generation. Akhir Sejarah itu sudah dalam hitungan mundur. InsyaALLAH kita adalah saksi dari episode Akhir Zaman itu. Danau Tiberias itu sudah mencapai level terendah sepanjang sejarah. Tahukah engkau apa episode yang menunggu bila danau itu mengering ? Kapan engkau akan bangun Ya Muslim, Ya Ummatul Wahidah !

Oh Al Aqsha, betapa mulianya dirimu. Bouraq ditambatkan di tembokmu. Rasulmu naik hingga langit ketujuh dari batu yang ada di halamanmu. Baitul Ma’mur tegak lurus berada di atasmu. Seluruh Nabi dan Rasul shalat di hamparanmu dengan Rasul junjunganmu sebagai imamnya. Engkau menjadi saksi perintah shalat diturunkan sebagai tiang agama umat harapanmu. Engkau pula yang kelak akan menjadi saksi betapa Kalimat ALLAH itu akan menang jua.

Bumi Al Quds selalu menjadi bumi ujian. Dan ia juga menjadi ujian bagi Kaum Muslimin, siapa di antara mereka yang termasuk dalam kelompok yang dijanjikan Rasulullah SAW. Kelompok yang selalu ada hingga akhir zaman untuk memerangi mereka yang berusaha memadamkan Cahaya ALLAH. Wahai muslim, ketimbang engkau sibukkan diri dengan rencana membangun rumah duniamu, kenapa tidak dari sekarang engkau rencanakan dan tetapkan kapan kakimu akan menginjak Bumi Al Quds dan menegakkan Bendera Tauhid itu di sana ?

“Kalau hal itu merupakan harta dunia yang mudah dan perjalanan yang dekat, niscaya mereka mengikutimu. Namun tempat yang dituju itu sangat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama ALLAH, “Jikalau kami sanggup, niscaya kami berangkat bersama-sama kamu.” Mereka membinasakan diri sendiri. ALLAH mengetahui sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. “ (Q.S. At Taubah 42)

“Maka bersabarlah kamu. Sesungguhnya janji ALLAH adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkan kamu. “ (Q.S. Ar Ruum 60)

Posted by: adi setiawan | 5 November 2009

Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini

Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini

oleh Ihsan Tandjung

Ada tiga tanda fenomenal dari tanda-tanda Kiamat yang perlu diantisipasi dewasa ini oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dua di antara ketiga tanda itu masuk dalam kategori tanda-tanda besar Kiamat. Satu lagi kadang dimasukkan ke dalam tanda besar, namun ada pula yang menyebutnya sebagai tanda penghubung antara tanda- tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat.

Tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat ialah diutusnya Imam Mahdi. Imam Mahdi merupakan tanda Kiamat yang menghubungkan antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat karena datang pada saat dunia sudah menyaksikan munculnya seluruh tanda-tanda kecil Kiamat yang mendahului tanda-tanda besar Kiamat. Allah tidak akan mengizinkan tanda-tanda besar Kiamat datng sebelum berbagai tanda kecil Kiamat telah tuntas kemunculannya.

Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah dalam kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat berikut ini:

Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق

Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء

Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف

Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد

Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود

Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف

Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور

Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا

Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن الخائن

Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين

Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم

Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق

Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم

Makan riba أكل الربا

Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa laa quwwata illa billah….

Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat. Dan bila asumsi ini benar, berarti dalam waktu dekat kita semua sudah harus bersiap-siap untuk menyambut datangnya tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat, yaitu diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Hal ini menjadi selaras dengan isyarat yang diungkapakan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai dua pra-kondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ

وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kese-wenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan adanya dua prakondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Kedua prakondisi tersebut ialah pertama, banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan kedua, terjadinya gempa-gempa. Subhaanallah. Jika kita amati kondisi dunia saat ini sudah sangat sarat dengan perselisihan antar-manusia, baik yang bersifat antar-pribadi maupun antar-kelompok. Demikian pula dengan fenomena gempa sudah sangat tinggi frekuensi berlangsungnya belakangan ini.

Berarti kedatangan Imam Mahdi merupakan tanda Akhir Zaman yang jelas-jelas harus kita antisipasi dalam waktu dekat ini. Dan jika sudah terjadi berarti kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk mematuhi perintah Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi. Kita diperintahkan untuk segera berbai’at dan bergabung ke dalam barisannya sebab episode-episode berikutnya merupakan rangkaian perang yang dipimpin Imam Mahdi untuk menaklukkan negeri-negeri yang dipimpin oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya).

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya (Imam Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah)

Imam Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Beliau akan mengawali suatu proyek besar membebaskan dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah semata, Penguasa Tunggal dan Sejati langit dan bumi. Beliau akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang mencerminkan kalimatthoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah dari ujung paling timur hingga ujung paling barat.

Ghazawaat (perang-perang) tersebut akan dimulai dari jazirah Arab kemudian Persia (Iran) kemudian Ruum (Eropa dan Amerika) kemudian terakhir melawan pasukan Yahudi yang dipimpin langsung oleh puncak fitnah, yaitu Dajjal. Dan uniknya pasukan Imam Mahdi Insya Allah akan diizinkan Allah untuk senantiasa meraih kemenangan dalam berbagai perang tersebut.

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ

ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ

“Kalian akan perangi jazirah Arab dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan menghadapi Persia dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Ruum dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Dajjal dan Allah akan beri kemenangan kalian atasnya.” (HR Muslim)

Lalu kapan Nabiyullah Isa ’alihis-salaam akan turun dari langit diantar oleh dua malaikat di kanan dan kirinya? Menurut hadits-hadits yang ada Nabi Isa putra Maryam ’alihis-salaam akan datang sesudah pasukan Imam Mahdi selesai memerangi pasukan Ruum menjelang menghadapi perang berikutnya melawan pasukan Dajjal. Pada saat itulah Nabi Isa ’alihis-salaam akan Allah taqdirkan turun ke muka bumi untuk digabungkan ke dalam pasukan Imam Mahdi dan membunuh Dajjal dengan izin Allah.

Begitu Imam Mahdi dan pasukannya mendengar kabar bahwa Dajjal telah hadir dan mulai merajalela menebar fitnah dan kekacauan di muka bumi, maka Imam Mahdi mengkonsolidasi pasukannya ke kota Damaskus. Lalu pada saat pasukan Imam Mahdi menjelang sholat Subuh di sebuah masjid yang berlokasi di sebelah timur kota Damaskus tiba-tiba turunlah Nabi Isa ’alihis-salaam diantar dua malaikat di menara putih masjid tersebut. Maka Imam Mahdi langsung mempersilahkan Nabi Isa ’alihis-salaam untuk mengimami sholat Subuh, namun ditolak olehnya dan malah Nabi Isa ’alihis-salaam menyuruh Imam Mahdi untuk menjadi imam sholat Subuh tersebut sedangkan Nabi Isa ’alihis-salaam makmum di belakangnya. Subhanallah.

” ينزل عيسى بن مريم ، فيقول أميرهم المهدي : تعال صل بنا ،

فيقول : لا إن بعضهم أمير بعض ، تكرمة الله لهذه الأمة ” .

“Turunlah Isa putra Maryam ’alihis-salaam. Berkata pemimpin mereka Al-Mahdi: “Mari pimpin sholat kami.” Berkata Isa ’alihis-salaam: “Tidak. Sesungguhnya sebagian mereka pemimpin bagi yang lainnya sebagai penghormatan Allah bagi Ummat ini.” (Al Al-Bani dalam ”As-Salsalatu Ash-Shohihah”)

Saudaraku, marilah kita bersiap-siap mengantisipasi kedatangan tanda-tanda Akhir Zaman yang sangat fenomenal ini. Tanda-tanda yang akan merubah wajah dunia dari kondisi penuh kezaliman dewasa ini menuju keadilan di bawah naungan Syariat Allah dan kepemimpinan Imam Mahdi beserta Nabiyullah Isa ’alihis-salaam.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam barisan pasukan Imam Mahdi yang akan memperoleh satu dari dua kebaikan: ’Isy Kariman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) au mut syahidan (atau Mati Syahid). Amin ya Rabb.

Posted by: adi setiawan | 30 October 2009

Mendengarkan = Menyembuhkan

Mendengarkan = Menyembuhkan

oleh sriyanti Anwar

Namanya dr.Agus, ia merupakan dokter favorit di kota Bau-Bau. Ia dikenal tidak hanya dikota ini tetapi oleh masyarakat di sekitar pulau Buton. Pasiennya tidak kurang seratus orang per hari, dia menerima para pasien dalam dua shift, lima puluh orang pada pagi hari mulai pukul 8.00-12.00, dan lima puluh orang lagi pada sore hari pada pukul 17.00-21.00, Tetapi di luar jam tersebut ada saja orang yang setengah memaksa berobat pada dokter tersebut meski perawat mengatakan dokter masih lelah sehabis memeriksa pasien. Jika ingin berobat padanya siaplah-siaplah sabar menunggu, dari mulai mengambil nomor sampai menunggu giliran dipanggil oleh perawat.

Pasien yang ingin berobat pagi maka harus mengambil nomor antrian berobat pada pukul 6.00 pagi, itupun jika perawatnya tidak terlambat datang. Jika ingin berobat sore maka silahkan mengambil nomor antrian pada pukul 3 sore, saat mengambil nomor antrian tersebut siap-siaplah berebut atau kehabisan. Saat nomor antrian habis tersebut barulah jatah menjadi pasien dokter lain yang juga membuka praktek tidak jauh dari tempat prakteknya.

Ketika mendengar ‘kesaktian’ dokter ini dari beberapa orang yang pernah menjadi pasiennya timbul rasa penasaran di hati saya. Menjadi orang yang dibutuhkan masyarakat tentu bukan hal mudah, menurut saya orang seperti ini pastilah memiliki sesuatu yang luar biasa. Jika dilihat dari profesinya sebagai dokter maka ia pasti sudah sangat berpengalaman menangani orang sakit, tepat diagnosanya, dan tepat memberikan obat. Hingga suatu ketika ibu mertua saya mengeluh sakit, maagnya kambuh ia meminta saya untuk menemani beliau berobat ke dr. Agus, sayapun menyetujuinya.

Tempat prakteknya tidak begitu luas, sebuah rumah tinggal yang halamannya telah disulap menjadi ruang tunggu dan sebuah kamar praktek untuk memeriksa pasien. Saat memasuki tempat itu kesan kalau tempat tersebut milik penganut hindu begitu terasa. Sebuah stupa tempat menaruh sesajen terletak di sisi kanan ruang tunggu, aroma bunga aneka rupa dan gambar khas hindu terpancang di dinding. Kebetulan saat itu saya telah mendapatkan nomor antrian di awal sehingga tidak terlalu lama menunggu, suara perawat memanggil nama ibu mertua saya. Lalu kami menuju ke ruang periksa, setelah mengucap salam “selamat sore” lalu kami dipersilahkan duduk di depan meja kerjanya, dengan senyum ramah ia bertanya pada Ibu tentang keluhannya, Ibu mengeluh panjang lebar sehingga sepertinya Ibu sedang curhat.

Dokter mendengarkan dengan sabar sambil sesekali tersenyum. Setelah cukup Ibu mencurahkan segenap apa yang ia rasakan, ia mempersilahkan ibu naik ke ranjang untuk diperiksa. Setelah memeriksa dengan teliti ia mempersilahkan ibu untuk duduk kembali saat itupun sambil diikuti dengan senyum ia menjelaskan diagnose penyakit yang diderita oleh ibu, tidak lupa ia memperlihatkan gambar organ lambung. Sesekali ibu bertanya iapun kembali menjelaskan dengan detail sesuai dengan bahasa yang dipahami oleh Ibu, tidak lupa ia juga memberi saran yang sederhana seperti makan tepat waktu, makan makanan 4 sehat 5 sempurna dan biasakan olahraga setiap hari. Puas, itu gambaran yang kulihat di wajah ibu, gambaran wajah yang kuyu karena menahan perihnya lambung tidak tampak lagi.

Dokter yang memiliki pasien puluhan ribu itu ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Ia masih muda usianya mungkin belum 35 tahun, statusnya masih dokter umum, mungkin karena kesibukan menangani pasien sehingga tidak punya waktu untuk mengambil pendidikan spesialis. Namun menurut amatan saya ada hal yang berbeda pada dr. Agus sehingga ia menjadi pilihan masyarakat , selain karena tarifnya yang sangat terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah ternyata ia seorang pendengar yang baik. Ketika bertemu pasien ia persiapkan dirinya menjadi orang yang paling dipercaya untuk mengeluh, mengungkapkan penderitaan lalu kemudian ia memberikan solusi dan saran.

Satu hal lagi yang menarik dari pribadi dokter tersebut ia mampu membesarkan hati para pasiennya, sehingga pasien memiliki semangat untuk sembuh dan sehat. Seorang tetangga mengisahkan bahwa dia pernah mengalami demam, flu, batuk, badan terasa sakit sehingga untuk sampai ke tempat praktek dr. Agus yang tidak jauh dari rumahnya ia harus diantar ojek. Setelah ia bertemu dokter ia seperti mendapatkan kekuatan dan bisa pulang dengan berjalan kaki. Ia sembuh sebelum minum obat, luar biasa.

Menyembuhkan sebenarnya bisa dilakukan oleh semua orang, tanpa harus menjadi dokter. Banyak dokter yang mengobati tetapi tidak menyembuhkan. Menyembuhkan sakit psikologi yang diderita pasien jauh lebih penting. Orang sakit terkadang jiwanya labil sehingga dalam kondisi seperti ini rasa sakit yang dirasakannya lebih berat dari penyakit yang sesungguhnya. Si sakit membutuhkan tempat untuk melabuhkan perasaan jiwanya seperti rasa sedih, khawatir, tidak percaya diri, dan takut. Orang yang sakit membutuhkan ‘energy’ jiwa untuk melawan penyakit yang dideritanya, tetapi hati kita terkadang tidak siap dengan kondis saat kita dibutuhkan. Kita terlalu egois dengan masalah kita sendiri. Meskipun yang sakit itu adalah ibu, ayah, istri, adik dan orang-orang yang ada di sekitar kita,Hati kita seolah-olah tidak memiliki ruang untuk keluhan dan penderitaan orang lain. Padahal Rosulullah bersabda :” seseorang di antara kalian tidak dikatakan beriman sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.

Jika menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik saja kita tidak bisa, apalagi dengan pengorbanan yang lebih besar misalnya tenaga dan harta demi saudara-saudara kita. Umat islam sejatinya adalah satu tubuh, jika salah satu anggota badan sakit maka seluruh tubuh juga akan merasakan sakit. Sangat indah sekali perumpamaan yang disampaikan Rosulullah tersebut jika kita mengamalkan dalam kehidupan sehari hari. Contoh yang baik tersebut ternyata telah diadopsi dr. Agus, dokter yang yang ada di hati masyarakat Bau-Bau dan sekitarnya. Semoga kelak hidayah Allah menghampirimu. Amin.

Posted by: adi setiawan | 30 October 2009

Kematian Adalah Pasti, Bersiaplah

Kematian Adalah Pasti, Bersiaplah

oleh Fery Ramadhansyah

Pujangga pernah berkata; “Allah swt. telah menetapkan umur kehidupan di pentas bumi bagi seluruh makhluk. Siapapun tidak dapat menambah atau mengurangi jatahnya. Kehidupan Anda adalah tarikan nafas yang terhitung jumlahnya. Setiap berlalu sekali tarikan, terkurangi pula bilangannya. Kematian adalah pintu, setiap orang pasti melaluinya. Sungguh gaib apa yang terdapat di belakang pintu itu.”

Genap sebulan keberadaanku di tanah air. Medan, nama yang selalu kubayangkan semasa belajar di negeri orang. Enam tahun lamanya aku berpisah, dan sekarang aku kembali ke kota kelahiranku, tempat aku bermain dan dibesarkan. Sungguh kerinduanku sangat mendalam, tatkala melihat orang-orang kucintai, ada dihadapan. Tiga orang adik yang sudah besar-besar dan dua orang tua yang kian bertambah usia.

Enam tahun, adalah waktu yang cukup lama dan pasti banyak yang berubah. Si bungsu, dulu semasa keberangkatanku menuju Mesir, ia kutinggalkan masih SD, dan sekarang sudah ‘Aliyah (SLTA). Tinggi badannya pun melebihiku.

Kalau tadi si Kecil, di sisi lain kulihat bapakku yang kian menua. Guratan lelah yang mengukir di wajahnya, tubuh yang dulu gemuk kian menyusut, adalah bukti pergulatannya dengan masa. Namun, ya begitulah. Kebahagian itu membuncah sebab kehadiranku sebagai anak tertua melengkapi suasana ramadhan, meskipun di ujung penghabisan. Ya, aku tiba lima hari sebelum hari kemenangan itu datang. Sehingga hadirnya diriku di tengah keluarga, seolah mengisi kekosongan keceriaan yang sempat hilang selama enam tahun silam.

Kebahagian itu memang indah. Penuh canda dan tawa. Suka cita dan riak soraya saling bersahutan, mengenang masa lalu yang pernah ada. Kisah dan cerita pun diadu, mengenang bagaimana kami dahulu. Namun, seketika di tengah masa-masa keceriaan itu, kata-kata bapak begitu menghenyuhkan perasaanku. Tengah bergegas berangkat ke tempat kerjanya, Bapak berpesan agar aku ziarah ke makam nenek. Nenek yang selalu memanggilku dengan sebutan kecil Didon, dulu begitu menyayangiku. Hingga keberangkatanku, ia sempat mengantarkanku dengan doa.

Nenek meninggal dunia setelah kepulangannya dari tanah suci. Sedari berangkat menuju baitullah, nenek sudah sakit-sakitan. Berbagai obatpun dikonsumsi agar tubuhnya tetap sehat dan memungkinkan ia berangkat ke tanah suci. Beberapa kali ia juga sempat dibawa ke rumah sakit. Setelah melalui perawatan intensif, akhirnya pada saat berangkat, pihak kesehatan haji, mengizinkannya untuk terbang ke kota kelahiran nabi Muhammad tersebut.

Sebulan berlalu, jemaah kembali ke tanah air. Dan rombongan jemaah haji itupun bersama dengan nenek. Selang beberapa hari tiba di tanah air, ia kembali dilarikan ke rumah sakit. Sewaktu dirawat, aku yang ketika itu masih di negeri seribu menara, sering menghubunginnya. Masih terngiang di telinga ketika ia memintakanku membaca beberapa ayat al quran. Walau hanya melalui telepon, kubacakan ayat-ayat itu di telingannya. Hingga lepas bacaan itu kuperdengarkan, kami sempat bercengkrama. Dan tawanya pun terdengar disambut oleh tawa kecil famili yang tengah berada di ruang rawat tersebut. Itulah akhir aku mendengar suaranya. Karena ia dipanggil Allah, pada tahun akhirku belajar di universitas Al azhar.

Ya, berziarah kekuburan nenek memang sudah seharusnya. Itu bukan sekedar tanda hormatku, tapi lebih dari itu. Tradisinya, kita di Indonesia berziarah ketika memasuki bulan ramadhan. Tapi, bagiku meski sudah di bulan Syawal, dan bertepatan awal kedatanganku kembali di tanah air, maka sebagai yang muda haruslah menaruh hormat kepada yang lebih tua.

Kematian itu pasti adanya, setidaknya perintah ziarah kubur yang dianjurkan oleh rasul kepada kita bertujuan agar kita lebih mengingat mati. Cukuplah kematian itu menjadi pelajaran bagi kita. Karena mengingat mati bisa menyadarkan kita kembali. Untuk apa kita diciptakan dan bila-bila masanya, kita akan kembali pada zat yang Maha Menciptakan.

Satu ketika, salah seorang teman pernah bercanda kepada saya. Saat kami melintasi kompleks perumahan, ia sontak berkomentar; inilah perkampungan masa depan kita. Ujarnya tanpa menunjuk arah mana yang dimaksud. Saya kira, ia ingin menunjukkan bahwa kompleks perumahan itu adalah contoh tempat tinggal yang ideal untuk kami diami. Tapi, ternyata bukan. Lihat susunan nisan itu, tertata rapih berbaris menjadi saksi bisu terhadap kemegahan rumah-rumah yang berada tidak jauh darinya. Ujarnya sambil menatap areal pemakaman depan kompleks perumahan.

Assalamu’alaikum ya ahlal qubur wa nahnu insya allahu lahiqun, Keselamatan atas kamu semua wahai penghuni qubur, dan kami insya allah akan menyusul. Beginilah doa yang dianjurkan bagi kita ketika memasuki pemakaman. Ini artinya apa, bahwa kematian adalah isyarat bagi kita untuk bersiap-siap menuju satu fase kehidupan yang disebut alam barzakh. Inilah mengapa berziarah itu di anjurkan. Dan bukan orang yang telah terkubur, adalah seluruh jiwa raganya telah tiada. Tidak, bahkan jiwanya senantiasa hidup dan itulah yang akan dikembalikan menghadap Allah.

Dalam salah satu khutbahnya, Sayyidina Ali berkata: “Maut bagaikan hanya keniscayaan bagi selain kita. Hak di dunia ini bagaikan hanya wajib terhadap selain diri kita. Ketika kita mengantar jenazah, kita bagaikan mengantar siapa yang segera akan kembali menemui kita. Kita meletakkan mereka di kuburan mereka, kita makan warisan mereka, bagaikan kita akan kekal selama-lamanya. Kita telah melupakan semua peringatan, dan merasa aman dari semua petaka, padahal kita hanya bertamu di dunia ini, dan apa yang kita miliki hanya pinjaman yang harus dikembalikan.”

Allah swt berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.. (QS:4:78)

Bersiaplah, dan sebaik-sebaik persiapan untuk satu ini adalah taqwa.

Posted by: adi setiawan | 30 October 2009

Haji dan Inklusivisme Islam

Haji dan Inklusivisme Islam

SEORANG muslimah pejuang keadilan gender berkesempatan pergi haji.Banyak pengalaman yang mengesankan dan menarik diceritakan.

Salah satunya adalah dia kaget melihat suasana yang egaliter dan membaur antara laki-laki dan perempuandiMasjidHaram, Mekkah. Maklum, gambaran yang berkembang, terutama di Barat, Islam itu mengungkung wanita dan itu ada benarnya jikamelihatrealitassosial di lingkungan Arab Saudi.

Namun dia menjadi kaget dan termenung, bukankah Masjid Haram merupakan pusat Islam? Bukankah di sini, di sekitar Kakbah ini, nilai-nilai dasar Islam dipraktikkan? Dia mengamati hal-hal yang tampaknya sepele, tetapi baginya sangat mendasar.Ketika di masjid, posisi laki-laki dan perempuan sama untuk mengakses ke Kakbah. Posisi depan dan belakang menjadi hilang karena formasinya melingkar.

Ketika tawaf, laki-laki dan perempuan juga berbaur. Ini kontradiksi dengan tradisi sebagian kawan kita yang memisahkan lakilaki dan perempuan ketika menghadiri pesta perkawinan. Di masjid Mekkah saja boleh, apa alasannya kalau suami-istri mesti dipisahkan ketika menghadiri resepsi? Coba saja perhatikan ketika mereka tengah tawaf atau ingin mencium hajar aswad dan mendekat pada dinding Kakbah,semua memiliki hak yang sama.

Semakin dekat dengan Kakbah yang merupakan pengikat dan simbol tauhid, umat Islam, entah laki-laki atau perempuan,terlepas dari mazhab, partai politik,dan kebangsaan mereka, semuanya rukun dan memiliki hak yang sama untuk mendekati Tuhan. Ibarat roda, Kakbah adalah poros pusat yang mempertemukan jeruji.Semakin ke pusat, semakin dekat ruji-ruji itu.

Namun semakin bergerak ke luar, jarak ruji-ruji semakin jauh. Begitulah kondisi psikologis umat Islam.Ketika mereka berada di Masjid Haram mendekat ke Kakbah, perbedaan dan permusuhan lenyap.Artinya, semakin seseorang mendekat pada Allah, semakin kuat imannya, mestinya semakin solid dan kokoh persaudaraannya. Siapa pun yang pernah berhaji tahu dan mengalami, sekalipun jumlah jamaah mencapai sejuta lebih, petugas keamanannya sangat sedikit dibandingkan pertemuan dunia lain, misalnya olimpiade.

Mengapa? Karena mereka lebih takut kepada Allah ketimbang kepada petugas keamanan kalau membuat onar, pertengkaran, dan lebih-lebih perkelahian. Allah berfirman, siapa yang bertengkar dan berbuat dosa, maka hajinya batal. Hanya satu baris firman Allah sudah mampu mengendalikan perilaku sejuta lebih jamaah haji. Saya membayangkan, andaikan ketaatan kepada Allah yang terjadi sewaktu haji juga dibawa pulang ke Tanah Air,betapa maju dan damainya Indonesia ini.

Tak akan ada korupsi dan perkelahian karena keduanya dimurkai Allah. Itulah yang dimaksud dengan menggapai maqam Ibrahim dari ibadah haji, yaitu tekad dan ketundukan total kepada Allah yang dilambangkan dengan kesediaan menyembelih putra kandungnya. Suatu ujian yang amat sangat berat,tetapi Ibrahim lulus.

Beda dari suasana Madinah yang lebih melambangkan peradaban Islam dengan kemegahan Masjid Nabawi dan sejarah perjuangan para sahabat, di Mekkah yang menonjol adalah individu lebur dalam gelombang kemanusiaan, aku hilang ke dalam kami dan kita.Semua mengenakan pakaian ihram sehingga keakuan bermetamorfosis menjadi kekitaan.

Lebih dari itu, pusat Mekkah adalah Kakbah yang tidak tertutup atap sehingga langsung menyambung dengan langit. Ini juga mengondisikan seseorang merasakan kesatuan dengan semesta yang setiap saat juga bertawaf,berputar mengikuti garis edarnya yang telah digariskan Tuhan. Masjid Haram di Mekkah selama 24 jam terbuka dan selama itu pula ritual tawaf tak pernah berhenti.

Asma Allah dan Rasul Muhammad senantiasa terucap dan memasuki orbit semesta. Olah karenanya tak ada sosok sejarah yang namanya paling banyak disebut dan didoakan kecuali Muhammad. Tak ada bandingannya dalam sejarah manusia. Bangunan Kakbah yang berbentuk kubus sangat sederhana,di dalamnya tidak ada apa-apa,tetapi di dalam kesederhanaannya itulah terdapat keagungan dan kemuliaan.

Orang akan kecewa kalau ingin melihat kemegahan bangunan Kakbah karena kemegahan dan keagungan letaknya bukan di sana, melainkan dalam hati dan pribadi setiap muslim yang berziarah ke baitullah itu. Dalam kekosongan itulah yang diharapkan mengisi hanyalah tauhid, kerinduan dan kecintaan kepada Allah.

Sayang sekali, kesederhanaan, keagungan, dan suasana spiritual di sekeliling Kakbah yang berada di dalam Masjid Haram itu terganggu oleh hotel-hotel megah di sekitarnya yang tingginya jauh melebihi bangunan masjid. Bahkan nama-nama hotel itu juga terkesan sangat berbau Barat sehingga menimbulkan interupsi kulturalpsikologis. Ketika jumlah penduduk muslim di dunia semakin meningkat, peminat untuk berhaji juga ikut meningkat.

Namun sangat disayangkan pembangunan sarana serta pengaturan bagi tamu-tamu Allah tidak seimbang sehingga setiap tahun mesti muncul problem dan keluhan dari jamaah haji.Bagi Pemerintah Indonesia, ini akan menimbulkan masalah tersendiri mengingat jumlah haji Indonesia paling banyak, sementara masyarakat kita pemakan nasi, bukan roti,sehingga cukup merepotkan.

Sampai kapan pun kalau Pemerintah Arab Saudi tidak melakukan perbaikan manajemen dan sarana haji secara rasional dan memadai, persoalan penyelenggaraan haji akan selalu muncul, siapa pun yang menjadi menteri agama. Kembali pada judul di atas, mestinya suasana persaudaraan, toleransi, kelapangan, kesucian, dan kesederhanaan yang diraih di Mekkah dibawa pulang ke Tanah Air mengingat pesan dan adegan haji itu secara substansial pada hakikatnya adalah dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Air. Entah itu pesan tawaf, wuquf, sa’i, melempar jumrah, kesemuanya itu yang paling berat bukannya dilakukan di tanah Arab, melainkan di Tanah Air. (*)

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT

Rektor UIN Syarif Hidayatullah

Older Posts »

Categories