• RSS tulisan gue

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS belajar tentang islam

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • arsip oecoep

  • facebook

  • pasang iklan anda disini

    adi ucup

    adi setiawan

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 6 other followers

  • jadikanlah kebaikan adalah hidupmu dan hidup mu adalah kebaikan

  • pengunjung

    • 83,374 orang
  • favourite

  • adioecoep

  • dapur adioecoep

  • hidup adalah perbuatan karena orang yang berbuat pasti adalah orang hidup ha…ha….ha

  • http://www.detik.com

  • tulisan teratas

  • paling banyak dibaca

  • almanak

    May 2010
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • insan kamil

    be the stronger is better than cower

  • ucup ways

    isilah hidupmu dengan kebaikan karena itu yang akan menolongmu kelak di hari pembalasan

  • oecoep

    i am the man want to be insan kamil like my prophet Muhammad SAW

  • Flickr Photos

    More Photos
  • Fathurrahman

  • arsip

  • RSS berita update

  • RSS my another blog

    • Jangan pelihara benci sahabatku ! 24 April 2009
      Jangan Pelihara Rasa Benci dikutip dari portal COP Suatu hari, ketika Nabi saw sedang berkumpul dengan para sahabat di dekat ka’bah, seorang lelaki asing lewat di hadapan mereka. Setelah lelaki itu berlalu, Nabi berujar kepada para sahabat, ”Dialah ahli surga.” Dan hal itu dikatakannya sampai tiga kali. Atas pernyataan Nabi tersebut, timbul penasaran di kala […]
      adi setiawan
    • kunci hati 20 April 2009
      Kunci Hati Senin, 20 April 09 – oleh : admin | 88 x dibaca Pada zaman dulu, ada seorang pesulap bernama Houdini yang sangat ternama dan memiliki ketrampilan yang istimewa, dia bisa membuka kunci serumit apapun juga dalam waktu yang sangat singkat, dan selama ini tidak pernah gagal. Dia pernah menetapkan sebuah target yang penuh […]
      adi setiawan
    • Masuk yang manakah kita? 16 April 2009
      Masuk yang manakah kita? Dalam hidup yang amat sederhana dan singkat ini banyak sekali kejadian-kejadian di sekeliling kita yang hampir setiap hari terjadi, baik yang sifatnya positif maupun negatif, namun manusia sebagai makhluk yang sempurna dibandingkan makhluk lainnya, sepertinya tidak mau memikirkan apalagi menghayatinya. Apakah kita yang termasuk di da […]
      adi setiawan
    • pelajaran hidup dari seorang filsup 8 April 2009
      Pelajaran Hidup Dari Socrates Beberapa murid dari filosof barat kuno Socrates pernah meminta pendapat Socrates tentang hakekat kehidupan manusia. Socrates membawa mereka ke pinggir sebuah hutan buah, berpesan kepada mereka, “Kalian masing-masing berjalanlah menelusuri barisan pohon-pohon buah ini, berjalan dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya, setiap o […]
      adi setiawan
    • Pak Shaleh dan orang shaleh 8 April 2009
      SALEH DAN MALU oleh Mohammad Sobary Beruntung, saya pernah mengenal tiga orang saleh. Ketiganya tinggal di daerah yang berbeda, sikap dan pandangan agamis mereka berbeda, dan jenis kesalehan mereka pun berbeda. Saleh pertama di Klender, orang Betawi campuran Arab. Ia saleh, semata karena namanya. Orang menyukainya karena ia aktif siskamling meskipun bukan pa […]
      adi setiawan
    • The Power of Ikhlas 6 April 2009
      The Power of Ikhlas ALKISAH, di sebuah desa hiduplah seorang ulama yang sangat disegani,meski secara ekonomi hidupnya pas-pasan. Dia berusaha mengajak penduduk di sekitarnya untuk menyembah Tuhan dengan meninggalkan tradisi dan kepercayaan lama yang suka menyembah gunung dan pohonpohon besar.Penduduk desa meyakini gunung dan pohonpohon besar memiliki kekuata […]
      adi setiawan
    • Suami Dambaan Para Bidadari 6 April 2009
      Suami Dambaan Para Bidadari Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi Suami Dambaan Bidadari dakwatuna.com – “Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Sahabat Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud. Mekkah menggelegak terb […]
      adi setiawan
    • Sepucuk “Hidayah” Buat Seorang Sahabat 6 April 2009
      Sepucuk “Hidayah” Buat Seorang Sahabat Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi dakwatuna.com – “Celakalah Khalid. Semoga tuhan Romawi melaknatnya.” Sumpah serapah itu keluar dari mulut Argenta seraya menarik tali kekang kudanya meninggalkan medan perang yang masih berdebu. Samar-samar terlihat ribuan tentara Romawi mulai mengambil langkah seribu. Argenta masih terengah- […]
      adi setiawan
    • ketegaran seorang istri 24 March 2009
      perempuan yg sabar
      adi setiawan
    • kisah sedih 24 March 2009
      buat orang tua untuk bagaimana blajar mendidik anak
      adi setiawan
  • RSS asalusil.com

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Musibah Sakit itu juga “Nikmat”


Musibah Sakit itu juga “Nikmat”

Hidayatullah.com—“Manusia langka”, mungkin, predikat ini pantas kiranya kita sandangkan kepada Sufyan. Karena memang, apa yang menjadi prinsipnya, tidak sembarang orang mampu mengikuti. Menganggap sakit sebuah ujian, adalah sesuatu yang biasa. Namun, akan menjadi luar biasa, apabila ada orang yang ketika tertimpa sakit, ia justru merasa mendapat kenikmatan dan kelezatan, lebih mengagumkan lagi, sakit yang ia terima tergolong ‘kelas berat’, diabetes mellitus, salah satu jenis ‘pembunuh’ nomor satu di dunia.

Tapi Sufyan mampu menikmatinya, bukan menyesalinya.“Ni’mat itu tidak melulu berupa kesehatan”, ungkapnya. Boleh jadi karena sikap ridho dan pasrahnya inilah, ia akhirnya tak jadi diamputasi. Inilah pengakuannya.

***

Bukan Biasa

Pristiwa sakit yang menimpa Sufyan bermula saat ditemukannya luka di telapak kakinya pada pertengan Nevember 2008 silam. Awalnya, dia tidak mengira kalau luka itu akan berakibat fatal bagi kesehatan tubuhnya,”Saya kira itu luka biasa,” terangnya. Sebab itu Sufyan hanya berobat di Puskesmas terdekat.

Namun dua hari setelah peristiwa itu, barulah ia menyadari kalau lukanya itu, bukan luka biasa. Sebab, saat itu kakinya menjadi bengkak, berwarna hitam-hitaman, dan terus mengeluarkan cairan dan nanah. Dengan di dampingi sang istri, Siti Chud Faidah, Sufyan kembali ke Puskesmas untuk melakukan ceck up ulang. Dari pemeriksaan itu, akhirnya diketahui kalau ia mengidap penyakit diabetes. Karena lukanya terus menganga, pihak puskesmas menganjurkan kepadanya untuk melakukan perobatan di rumah sakit.

Meski demikian, Sufyan tidak serta-merta mengiyakan anjuran puskesmas untuk berobat ke rumah sakit, karena terkendala dana, “Sempat ragu untuk berobat. Karena biaya rumah sakit itukan mahal,”’ ujarnya.

Setelah melakukan musyawarah dengan keluarga dan dengan diiringi keyakinan, bahwa Allah tidak akan mungkin menguji hambanya di atas kemampuan yang mereka miliki, maka tekad untuk melakukan perobatan di rumah sakit pun jadi. Sejak itu, Sufyan menjalani rawat jalan.

Amputasi dan Serangan Jantung

Manusia hanya bisa be-rikhtiar, pada akhirnya, Allah jualah yang menentukan segala sesuatu. Begitu pula prihal penyakit Sufyan. Meskipun telah berobat di beberapa rumah sakit, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo, R.S.A.L Dr. Ramlan (Surabaya), dan R.S. Karang Menjangan, Surabaya, penyakitnya tak urung sembuh, yang ada justru sebaliknya, tambah parah.

”Kaki ini tambah bengkak, dan terus mengeluarkan nanah. Karenanya, dokter selalu menyedot nanah yang ada di dalam dengan menggunakan alat suntik,” kenangnya.

“Tidak itu aja, telapak kaki ini tak ubah seperti hati, lembek, warnanya juga seperti perpaduan antara kehitam-hitaman dan kebiru-biruan,” imbuh Sufyan.

Karena terus parah, akhirnya fonis amputasi jatuh pada diri Sufyan. Mendengar kata amputasi, naluri kemanusiaannya tumbuh, ia sempat meneteskan air mata, seraya memegangi kakinya.

“Ya Allah, bagaimana mungkin aku hidup tanpa kaki, “ begitu perasaan Sufyan dalam hati. Meskipun vonis amputasi dinilai dokter merupakan keputusan akhir, Sufyan tetap enggan melakukannya. Ia berkeyakinan,

Salah satu pegangannya adalah salah satu hadits Nabi yang berbunyi, “Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti Allah menurunkan obatnya.” [Dalam Shahih Bukhari dan Muslim]

Akibat tak mau melakukan amputasi, tidak beberapa lama, ia menderita serangan jantung. Kembali dokter menganjurkan untuk melakukan operasi. Namun ia tetap kukuh menolak. “Saya menolak. Biarlah kalau sudah tiba waktunya mati, ya mati,” tantangnya kala itu pada sang dokter.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, selama menjalani proses perawatan, nyaris tidak ada income yang masuk ke kantong keluarganya. Sufyan terpaksa melakukan cuci gudang. Semua barang-barang layak dijual ia jual. Mobil yang kreditnya belum lunas ikut amblas, sepedah motor, laptop, LCD, TV, kursi tamu, beberapa perabotan rumah tangga adalah diantaranya juga ikut lenyap.

Sementara sakitnya tak juga kunjung sembuh. Hasil roentgen menunjukkan, talapak kakinya sudah mulai membusuk, bahkan, beberapa jarinya sudah tak berfungsi lagi, karena digerogoti oleh bakteri.

Entah karena kesabarannya, suatu hari, Allah berkehendak mempertemukan dirinya dengan seorang sahabat sesama dosen yang memiliki istri seorang dokter.

Atas anjuran sang teman, Sufyan akhirnya melakukan terapi oksigen di salah dokter wanita yang tak lain adalah istri sahabatnya tersebut. Rupanya Allah berkehendak lain, sedikit demi sedikit kakinya mengalami perubahan. Lukanya yang awalnya menganga, kini telah mengering. Kakinya yang sebesar kaki gajah, mulai kempes hingga akhirnya kembali ke bentuk semula.

Istri Sholihah

Sufyan bersyukur, ia yang semua melawan kehendak dokter, akhirnya semakin yakin bahwa janji Allah benar adanya. Selain itu, salah satu yang menyebabkan dirinya termotivasi untuk sembuh adalah peran istri tercintanya yang dinilai sangat sholihah.

Betapa tidak bahagia, ia mengaku memiliki istri yang setia dalam suka maupun duka. Kesabaran istrinya, Siti Chud Faidah, di kala ia menderita, tiada ternilai harganya.

Semenjak ia menderita, Faidah lah yang akhirnya berperan ganda. Selain menjadi ibu rumah tangga, ia terpaksa harus mengantar kemana-mana kegiatan Sufyan, termasuk saat mengajar kuliah. Faidah lah yang harus menjadi sopir untuk antar jemput kegiatan sang suami.

Bahkan, demi mengfokuskan perhatian dalam melayani sang suami, wanita kelahiran Surabaya tahun 1972 ini, rela menghentikan seluruh aktivitasnya, sebagai kepala sekolah salah satu MI di Sidoarjo dan kuliah pasca sarjana di STAI Al-Khaziny.

“Sebaik-sebaik perhiasan dunia adalah istri shalehah,” ujar Sufyan menukil kandungan hadits.

Kini, akibat kesabaran mereka berdua, Allah berkenan meneteskan “madu” nya berupa nikmat kesembuhan dan nikmat iman yang semakin kokoh.

Pasca perkembangan kesembuhan Sufyan, suami-istri ini yang sabar ini tengah memasang ‘kuda-kuda’ untuk menghadapi ujian akhir kuliah. Sufyan kembali sibuk menyusun disertasinya yang berjudul, “Guru Profesional Dalam Perspertif Filsafat Pendidikan Islam” , sedangkan istrinya mempersiapkan tesis yang mengangkat judul, “Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.”

Mengakhiri ceritanya kepada hidayatullah.com, Sufyan hanya berpesan pendek untuk tak selalu berprasangka buruk pada Allah, bahkan terhadap ujian berupa sakit. “Kadang, sakit itu nikmat,” ujarnya. [Robin Sah/hidayatullah.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: